Maou Gakuin no Futekigousha Chapter 66 Bahasa Indonesia

Dark Mode

Chapter 66 - Pagi yang tenang

Dalam kegelapan, aku merasakan jari kecil menyentuhku.

"Arnos."

Aku mendengar suara seorang gadis yang akrab ditelingaku.

"Sarapan."

Aku membuka mataku dan melihat wajah seorang gadis menatapku.

Mata biru yang indah dan rambut pirang platinum sedikit ikal yang menggelitik ujung hidungku.

Itu Misha.

"Bangun"

"Aah."

Misha tertawa dan berkata

"Fufu, Selamat pagi."

Keluar dari tempat tidur, aku bertanya pada Misha

"Kenapa kau ada di sini, Misha?"

Aku menggambar lingkaran sihir di bawah kakiku dan mengubah baju tidurku menjadi seragam.

"Hari ini aku berlatih membuat bekal."

Begitu ya. Apa ibuku mengajarimu cara membuat bekal saat dia sedang membuatnya?

"Aku juga membuat sarapan."

"Aku tak sabar untuk memakannya."

Misha berkedip beberapa kali dan terlihat terkejut oleh kata-kataku.

"Apa ada yang salah?"

"Mau sarapan?"

"Kita bicara tentang sarapan, kan?"

Misha mengangguk beberapa kali dan menunjuk pada dirinya sendiri.

"Untukku?"

"Tak boleh?"

"Ibu membuatnya untuk Arnos."

Jadi begitu.

"Ayo pergi."

"Nn."

Misha menjawab dengan singkat seperti biasa dan membuka pintu.

Ekspresinya sama datar seperti biasanya, tetapi dia tampak depresi.

"Aku akan dengan senang hati menukar sarapanku dengan yang dibuat Misha."

Misha menatap mataku mencari niat sejatiku.

"……… Tak apa-apa nih?"

"Jika kau tak keberatan."

Misha berpikir sedikit sebelum menjawab.

"Arnos bukannya menyukai masakan ibu?."

"Aku memang menyukainya, tapi aku jarang mendapat kesempatan untuk memakan masakanmu."

Misha menunduk sedikit dan tersenyum malu tapi senang.

"Sangat lucu."

"Aku hanya aneh."

Misha menggelengkan kepalanya.

"Apa Arnos tahu?"

"Tahu apa?"

"Perasaanku?"

"Bahwa kau agak kecewa?"

Misha sedikit menurunkan matanya ketika aku menunjukkannya.

"……..Malu…….."

"Kau juga sering melihatku."

Ketika harus melihat langsung ke lubuk hatiku, tak ada orang lain yang mendekati Misha.

"Namun, mata iblisku tak akan kalah darimu."

Ketika aku mengatakan bahwa mata Misha sedikit terbuka, dia tertawa.

"Apakah aku mengatakan sesuatu yang lucu?"

"Tebak"

Kenapa dia tertawa?

"Apa kau senang?" (A)

"Tebak." (M)

Misha menjawabku tetapi tak memberiku jawaban yang sebenarnya.

Misha menuju ke ruang tamu dan aku mengikutinya.

Sarapan sudah siap di atas meja tetapi hanya untuk dua orang.

"Orang tuaku kemana?"

"Kerja."

Ayahku masih membantu pandai besi yang membantunya membuat pedang Besi Kongo.

Berkat turnamen pedang iblis, ayahku tampaknya telah diakui sebagai pengrajin sekarang. Dia bahkan diberitahu oleh pemilik pandai besi bahwa dia bisa datang dan membantu mereka kapan saja dia mau di masa depan.

"Kalau Ibuku?"

"Seorang pelanggan meminta penilaian di rumah mereka tetapi tempatnya cukup jauh."

Jadi dia pergi lebih awal.

"Arnos kan lelah karena turnamen jadi mereka bilang mereka tak ingin membangunkanmu."

Aku sebenarnya tak lelah, tapi kurasa itu masalah orang tua.

"Bagaimana kalau kita makan?"

"Nn."

Biasanya suasanya cukup berisik jika ada orangtuaku disini, tetapi aku dan Misha sarapan bersama dengan tenang.

Setelah selesai sarapan, kami membereskan bekasnya dan meninggalkan rumah bersama.

Berjalan berdampingan, kami berjalan santai menuju sekolah.

Aku bisa menggunakan <Gatom> tapi kami punya banyak waktu. Jadi tak perlu terburu-buru.

Sama sekali bukan hal yang buruk pergi sekolah dengan berjalan santai di pagi hari.

"Itu ...?"

Kami menemukan wajah yang kami kenal.

Itu Sasha dan dia menatap kami dengan curiga.

“……… .Kenapa kau datang ke sekolah bersama Misha?”

"Karena kita bertemu pagi ini."

“Aku tahu kau sudah bertemu. Aku bertanya kenapa. Apa kau tak mau memberitahuku? Sedikit canggung? "

"Bekal." Misha berkata. "Ibu Arnos yang mengajariku."

"Begitu ya. Hmph. Kau bilang kau sedang belajar memasak. Jika kau pergi kau seharusnya memberitahuku. ”

Sasha tampaknya sedikit tidak puas. Apa ia cemburu?

"Aku memberitahumu."

"Eh? Kapan?"

"Saat aku keluar pagi ini."

Sasha mengingat-ngingatnya tetapi sepertinya ia tak ingat sama sekali.

“Kau sudah pergi ketika aku bangun …….”

Misha menggelengkan kepalanya.

"Ini yang kedua kalinya."

"Kau bohong ... Tapi benarkah ...?"

Begitu ya. Jadi Sasha tertidur lagi setelah Misha memberitahunya.

"Fumu. Sepertinya Sasha susah bangun di pagi hari. ”

"Bukan begitu ………."

Misha mengangguk padaku.

"Susah bangun."

"Aku bukannya susah bangun. Tetapi butuh beberapa saat untuk bangun dari tempat tidur, kepalaku keleyengan dan ingatanku agak kabur. Hanya itu lho."

Bukannya itu susah bangun? Apa kau sudah mengerti?

"Apa-apaan dengan mata kemenangan itu?" (S)

"Bukan apa-apa. Tak perlu malu. Susah bangun di pagi hari bukan masalah. Hidupmu belum berakhir karena itu. "

"Bisakah kau berhenti bicara seolah kamu mengatakan sesuatu yang sangat penting?" (S)

Aku mengatakan kepadanya bahwa dia tak perlu malu tetapi sepertinya dia tak mengerti apa yang aku katakan.

"Bodo lah. Ayo cepat pergi. " (S)

Segera setelah Sasha mulai berjalan, Misha bergegas mengejarnya.

"Marah?"

"Tentang apa?"

"...... Aku pergi sendirian."

“Aku tak keberatan. Itu tak bisa dihindari bahwa kau meninggalkanku pagi ini dan pergi ke rumah Arnos sendirian."

Misha melihat ke bawah sambil berpikir.

“…… Aku tak akan pergi sendirian lagi ……”

"Kenapa? Aku bilangkan aku tak keberatan. Kalau Misha mau pergi maka pergilah. ”

Misha terdiam dan aku mulai tertawa.

"Apa yang kau tertawakan?"

"Bukan apa-apa, hanya saja kau tak melakukan apapun selain berbohong sejak kita bertemu Sasha. Jika kau mau ke rumahku, maka kau harus mengatakannya. "

"A-AKU………. Aku tak mengatakan aku ingin datang atau apapun lho …… ” (TLN : Tsundereee~)

Kata-katanya jujur pada akhirnya.

"Tak ada gunanya jadi keras kepala. Kau susah bangun di pagi hari dan tak bisa datang ke rumahku tetapi kau jangan khawatir tentang hal itu. Di depanku, kelemahanmu pagi hari tak ada artinya. "

“... Errrm. Kau sepertinya sedikit melebih-lebihkannya ya, tetapi apa yang ingin kau lakukan? ”

"Aku akan mendatangimu dan membangunkanmu sendiri."

"... Eh."

Wajah Sasha memerah.

"Aku tak sebaik Misha. Jangan berpikir aku akan membiarkanmu tertidur lagi di depanku. "

Aku menatap mata Sasha saat berbicara.

"……Ah………"

"Apa jawabanmu?"

Sasha tak bisa menatap mataku dan melihat ke bawah.

"…………………………..Iyaa…………."

Jawaban Sasha sangat samar. Apakah sangat memalukan tidak bisa bangun di pagi hari? (TLN : Ga peka anying :'v)

"Kita semua bisa pergi bersama lain kali." Aku berkata pada Misha yang mengangguk bahagia.

"... Tapi ........ tapi anehnya Arnos akan datang untuk membangunkanku supaya aku bisa pergi ke rumah Arnos."

Sasha mulai bergumam pada dirinya sendiri.

"Yo. Selamat pagi."

Aku berbalik dan Ray ada di sana.

"Yo."

Misha dan Sahsa mengucapkan selamat pagi kepada Ray bersama.

"Apa kalian selalu berangkat ke sekolah bersama-sama?"

"Tidak. Ini hanya kebetulan. ”

Ray berjalan ke sampingku.

"Oh ngomong - ngomong. Apa kau tahu di mana aku bisa menemukan pedang iblis yang bagus? ”

"Fumu. Pengganti untuk Initeio? "

"Karena pedang itu rusak parah dan harus diperbaiki yang akan memakan waktu yang cukup lama jadi aku perlu pengganti untuk saat ini."

Cukup bagus. Bukan seperti dia bisa membuat Sheila menjadi pedangnya setiap kali dia membutuhkannya. Aku ingin tahu apakah aku punya pedang yang cocok untuk Ray di dalam penyimpananku?

"Selamat pagi semuanya!"

Di kejauhan, Misa melambai pada kami dan berlari ke tempat kami.

"Ini tidak biasa kalian semua berangkat bersama."

"Ya. Ini hanya kebetulan. ” Kata Ray.

"Begitu. * Fufufu * tapi senang bisa berangkat bareng gini karena aku selalu berangkat sendirian di pagi hari. " (Misa)

"Itu mengejutkan. Aku tak berpikir kau adalah seseorang yang kesepian. "

"Ahahaha ... Itu rahasia ..."

Ketika dua orang melakukan obrolan kecil, kami melanjutkan perjalanan ke Deruzogedo menikmati ketenangan di pagi ini.

3 Responses to "Maou Gakuin no Futekigousha Chapter 66 Bahasa Indonesia"

  1. Sasuga arnos-sama... kgk peka klo masalah gituan

    ReplyDelete
  2. jiwa jomblo ku bergejolak...
    (ini chapter wholesome bgt yak)

    ReplyDelete
  3. seandainya kejadian di atas terjadi dalam dunia nyata

    ReplyDelete

Update Lainnya

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Novel ini diterjemahkan oleh Arisuni Translation

Iklan Tengah Artikel 2

Novel ini diterjemahkan oleh Arisuni Translation

Iklan Bawah Artikel

Makasih telah membaca chapter ini. jangan lupa komen dan share cuk!