Project Fraclayfe Prolog Part 3-8
Dark Mode
-- Part 3 --
- Betting Game.
Sebagaimana hal itu tertulis, permainan ini bekerja dengan pertaruhan sederhana. Seperti semacam sistem mutlak ada karena ini sebuah Game.
Tanpa adanya akal sehat permainan yang dikenal sebagai ‘batasan’, apapun bisa kau pertaruhkan di Game ini. Hal yang dalam sebuah permainan akan ditentukan sebagai ‘hadiah kemenangan’ player—sesuatu seperti hak, alasan, harga diri atau keinginan dan perasaan pemain itu sendiri dapat dipertaruhkan di dalam Game sederhana anak kecil.
Terlepas dari metode apa yang kau gunakan. Saat kau menang kau mendapat segalanya, saat kau kalah kau kehilangan segalanya. Tidak peduli sekuat apapun lawan bermainmu, setelah membuat mereka setuju—jatuhkan, curi, pukul dan bunuh.
Di dalam dunia di mana segala hal ditentukan oleh aturan dan kondisi kemenangan, hukuman, aturan permainan dan hadiah kemenangan player terikat dalam satu konstitusi mutlak seperti sebuah system di dalam Game, sehingga menentangnya adalah mustahil, dan bahkan.... lebih daripada itu—
---Akal sehat dunia dapat kau tentukan dengan susunan huruf sederhana. Selama hal yang disebut Fraclayfe word telah membentuk sebuah kata—apapun itu maka, tidak salah lagi, itulah akal sehat—itulah kenyataan.
Kau bisa mengubah apapun yang kau mau, menciptakan apapun yang kau mau di dalam dunia permainan dan kata ini. Dengan Fraclayfe word mengubah ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’ adalah seperti keinginan mudah anak kecil.
Potensi besar untuk perubahan alam semesta ini ada di dalam Betting Game dan juga Fraclayfe word—tapi, tapi bahkan dunia semacam itu juga tidak pernah sekalipun berubah.
Dunia yang tidak berubah sama sekali. Itulah kenapa tempat ini adalah, sejak dulu, sejak awal terciptanya adalah eksistensi yang sangat bodoh.
Sebuah alam semesta dimana segala hal ditentukan oleh permainan anak kecil dan susunan huruf sederhana, dengan nama lain-------
- ........ Fraclayfe.
-------..................
Sudah hampir satu tahun sejak dewa(Creator) mengumunkan kepada lima player aturan permainan untuk Betting Game berskala besar.
Dan kemudian hari ini—sang Creator sejak beberapa waktu yang lalu datang mengatakan ini pada salah satu di antara mereka. Kepada Zombist di tengah penyelesaian Neverending Game 200 tahun miliknya—mengatakan “Player keenam, pemain terakhir yang kubicarakan waktu itu, sekarang sudah muncul, kau tahu?”
Seolah pernyataan itu adalah penegasan, dia juga menambahkan “Kubilang, yah kau tahu kan, pergilah jemput ‘dia’ oke~☆”
Lalu untuk menjawabnya, dengan senyum pahit Zombist mengangkat bahu.
-- “Hey hey Creator-kun, kau tidak pernah mengatakan soal ini sebelumnya. Dan juga kenapa itu harus aku, bukankah itu... aneh? Ah tunggu dulu, pertama ini adalah waktu terburuk jika kau ingin menyuruhku melakukan sesuatu seperti menculik seseorang atau semacamnya—karena itu justru akan membuang-buang waktu terbatasku. Juga karena kau adalah Creator harusnya kau tahu tentang ini, jadi, kenapa, ‘justru’ aku?”
“Haha~ kamu mengatakannya seperti aku menyuruhmu berbuat buruk, huh?”
----Kenapa harus, kamu—yah ada alasannya.
Seperti karena itu mungkin akan menyelesaikan masalah di masa lalu yang sudah seharusnya diselesaikan. Seperti karena itu mungkin akan menjadi titik ‘awal’ perubahan. Dan seperti itu mungkin untuk yang ‘selanjutnya’, untuk ‘kemudian’ dan untuk yang ‘berikutnya’.
Itu adalah apa yang sang Creator lihat dari seorang Zombist belaka, tapi... ‘hm aku mungkin menilai terlalu tinggi ya, haha ~☆’.
......... Itu karena dunia ini kau tahu—sebenarnya adalah eksistensi yang bodoh, tidak pasti dan tidak bisa diandalkan—seperti yang kalian berdua(kakak beradik) rasakan.
........----
--- Lebih dari 200 tahun yang lalu.
Betting Game yang memperebutkan dua Fraclayfe word dimulai di tempat yang jauh dari peradaban. Itu lebih jauh dari laut, di bagian barat dunia Fraclayfe di atas pulau kosong tanpa nama.
Pesertanya adalah seorang Zombist dan adik perempuan manusianya, seorang Vhampires dan satu orang yang ‘menyerah’ sejak permainan dimulai.
-----Hasil dari permainan itu adalah—satu orang keluar dari permainan, dan seorang manusia mati—dengan hanya satu Zombist dan Vhampires yang tersisa, Betting Game sejak lebih dari 200 tahun dibawa ke dalam Stalemate(buntu).
Meninggalkan tempat permainan ini berlangsung akan dinyatakan sebagai kekalahan—ini adalah apa yang teman satu tim Vhampires abaikan sejak awal permainan dan membuat sang Vhampires harus melanjutkan permainan seorang diri.
Kondisi kemenangannya.... ditentukan sebagai mencegah lawan menggunakan skill terbaiknya selama 7 hari penuh—168 jam dan tidak kurang dari itu. Selama waktu itulah jika semua pemain lawan tidak menggunakan skill terbaiknya, tim yang lain akan memperoleh kemenangan.
Untuk alasan ini juga, adik perempuan Zombist itu meninggalkannya(mati), sudah 200 tahun yang lalu. Waktu, metode, alasan, dia mengingat setiap detil seolah itu adalah kejadian di saat-saat lalu. Seakan itu adalah ingatan abadi yang tidak mungkin hilang. Hal yang tidak akan pernah dia lupakan.
Untuk melawan yang lemah, daripada mencegahnya memakai skill maka akan lebih mudah membunuhnya saja—tidak salah lagi itu memang akal sehat bagi yang kuat.
Itulah yang mereka berdua(Zombist dan manusia) tidak miliki.
Dan lalu....
........... Hari ini, salah satu dari pemain itu mencoba menggerakkan kembali roda waktu permainan. Sebagai yang lemah dia akan ‘menyerang’, sebagai yang tidak diunggulkan dia ingin membalikkan keadaan musuh. Kalau begitu...
Tepat sekali...... Metodenya hanya satu.
Tertawa tanpa takut----Dia mengumumkan metode(aturan) di dalam hatinya----
-- Untuk orang terbodoh lakukanlah dengan metode terbodoh. Mustahil maka jatuhkan dengan metode mustahil. Gila dan tidak waras maka gunakan metode yang juga gila dan tidak waras. Tidak masuk akal maka hancurkanlah akal sehat.
Itu benar. Lalu, ayo bertaruh.
Bukan lari hanya untuk dimusnahkan oleh yang kuat, tapi bertaruh. Semua musuh yang berdiri di jalan kita, tak peduli siapakah itu, dengan kekuatan kita—dengan kata lain dengan「kelemahan」. Bodohi semuanya; akali, seperti pecundang. Seperti yang lemah. Jenis metodenya tidaklah penting, lakukanlah tanpa malu dan bangga. Disanjung dengan kepengecutan. Dipuji dengan kevulgaran. Dihormati dengan kerendahan diri---
—Dan lalu.... jadilah pemenang.
...... Sama seperti yang kita(kakak beradik) dulu lakukan.... ya kan?
........------
...... Betting Game itu sebenarnya, yang diusulkan secara khusus oleh Creator akan dimulai setelah satu tahun tapi... itu bukan untuk menyiapkan Gamenya, melainkan untuk menunggu semua pemain agar mampu berpartisipasi.
Untuk kemunculan player keenam dan juga Neverending Game 200 tahun yang harus terlebih dahulu diselesaikan.
Tidak salah lagi semuanya ada di dalam rencana sang Creator.
—Kalau begitu ayo lakukan. Seperti yang kau mau, mari selesaikan Betting Game ini dalam satu tahun.
Itu yang sang remaja pikirkan, tapi di saat waktu itu akhirnya datang dan semua persyaratannya terpenuhi—
“Kenapa justru aku... hey jawab pertanyaanku sialan---”
Itu karena-----
“Alasannya yah~☆, bahkan jika aku meneruskannya dan mengatakannya, itu terlalu rumit sampai kamu mungkin akan mulai tidur, tapi....”
Tapi Creator itu, dengan wujudnya yang hanya seekor kucing, menambahkan.
“Atau setidaknya aku bisa memberitahumu yang satu ini oke... Lawan bermainmu, dia mengurung player keenam di dalam dimensi lain dengan hampir seluruh kekuatannya. Sehingga jika rencanamu terus berjalan seperti di kepalamu, Vhampires itu tidak diragukan lagi akan mati.”
Lalu jika dia(Vhampires) mati, ia(Zombist) akan melihat akhir dari Game ini dalam genggamannya. Tidak salah lagi dia menang tapi...
“Jadi begitu caramu menggunakan para player(bidak) yah... dalam berbagai hal itu menggelikan...”
Karena dalam aturan yang ia, sang Zombist kembangkan, ada persyaratan dimana Vhampires itu tidak diperbolehkan sampai mati. Karena jika dia mati semuanya akan berakhir sia-sia. Bukan untuk dirinya, orang lain ataupun dunia tapi, itu hanya untuk adik perempuannya.
“Haha~ jika kamu tahu, aku sebenarnya baik hati lho~ ☆? Benar, aku tidak berbohong kok. Yah aku mungkin sedikit menjahilimu, jadi.... heheh, sebagai gantinya aku bisa mengirimmu ke dimensi itu, apa itu oke~ ☆?”
“Ya ya, semuanya sudah ada di otakmu benar? Merencanakan semua ini dan soal yang akan terjadi di masa depan—lagipula.... ‘dia’ masih tidak boleh mati. Nah aku tidak sedang peduli dengan permainanmu atau semacamnya, tapi itu akan jadi sia-sia jika aku saja tidak bisa keluar dari pulau aneh ini karena aturan.”
Kalah adalah standar bagi yang lemah. Tidak salah lagi itu benar tapi-----
“Nyahaha~ jika hanya untuk menjatuhkan Game semudah itu kau tidak perlu khawatir ya kan. Kalau itu kalian, kalian pasti bisa melakukannya benar. Aku mengharapkan dan mempercayainya ok jadi cepatlah—”
Itu seperti dua sisi koin....
Bagi yang lemah untuk menghancurkan standar mereka hanya perlu membalik satu ‘sisi kalah’ untuk ‘sisi menang’ di belakang itu. Karena itu memang cara kalian(kakak beradik) sejak dulu bermain ya kan.
Jadi cepatlah—
“—Hancurkan orang membosankan itu dan kemarilah! Shi~on---!”
....-------
Tapi, benar. Ada satu kata yang menggangunya.
“.... ‘Kalian’, hah?”
Sesaat setelah nada yang seperti pertanyaan itu datang dari Zombist yang dia panggil Shion, suara tawa datang dari sang Creator, kemudian—ruang di sekitar mereka berubah.
Lalu.....
“Ah~ benar, di sana mungkin akan ada sedikit masalah dengan kunci atau semacamnya, tapi jika itu kalian berdua, yah, hahaha~ ☆. ”
“Hey, apa yang kau.... ma, ksud....-------”
Remaja itu yang menajamkan matanya seolah menunggu sebuah jawaban, melihat—dengan mata emasnya dia menyaksikan saat dimensi di sekitarnya digantikan. Sensasi tanah dan rerumputan yang seharusnya ada menghilang—langit, awan-awan dan matahari terdistorsi dari ruang dimensi. Semua yang tersisa adalah.... sebuah ruangan putih tak berujung, slide puzzle raksasa dan juga kubus semi transparan yang memisahkan antara sang remaja dan seorang gadis manusia.
.......-----
......... Jauh di tempat yang berbeda, bukan sebagai kucing ataupun anak kecil seperti yang pernah remaja itu temui sebagai ‘Creator’—seseorang dengan rambut dan mata hitam berkata.
Bukan sesuatu yang bisa seseorang dengarkan selain dirinya, sambil bermain-main dengan Chess pieces—black queen, dia melempar kata-kata pada kekosongan.
“Tidak ada ‘yang selanjutnya’ untuk sebuah akhir. Tapi di dunia ini kau tahu Shion—mulailah percaya dan berharap untuk hal itu dapat terjadi, lalu mulailah ‘yang selanjutnya’ dengan caramu sendiri........---- yah.... ~hoahm~....... dan lalu bawalah cerita ini pada ending yang akan kau sukai.”
-- Part 4 --
“Waktu yang tersisa..... jangan memikirkannya—aku tahu itu tidak banyak.”
Slide puzzle terbesar dan terumit yang pernah Shion lihat ada di depan matanya.
Seperti dalam kebanyakan permainan puzzle, itu adalah Game menyusun anak-anak untuk menyelesaikan enigma(masalah) yang diberikan sebagai hiburan.
Tingkat kesulitan sebuah Game, cara bermain dan juga metode penyelesaian—setiap jenis puzzle memiliki banyak variasi enigma yang berbeda.
Dalam ‘masalah catur’ itu adalah situasi di mana kau harus men-checkmate raja musuh dalam sejumlah langkah singkat. Dengan tidak adanya batas yang jelas antara langkah mana yang perlu dan tidak boleh kau ambil, kau dituntut untuk menganalisis setiap pola kejadian dan belum lagi membuat langkah paling efektif di atas papan.
Dalam sudoku itu adalah mengisi setiap kotak kosong dengan angka yang tepat tanpa tertimpa oleh angka yang bernilai sama dalam satu kolom ataupun baris.
Dan dalam slide puzzle, itu adalah ‘mengembalikan susunan awal setiap kotak tanpa mengangkat bahkan satu kotak pun dari papan’.
Akan jadi hal yang mudah jika kau mempelajari ‘enigmatologi’ dan menyelesaikan setiap masalah dengan cepat.
Contohnya jika, dalam permainan ini kau menguasai ‘enigmatologi’—maka, kau bisa menyelesaikan slide puzzle 3x3 hanya dalam 3 detik waktu bermain... itu sebenarnya sangat mudah, bahkan kamu bisa lebih cepat jika kecepatanmu membuat gerakan lebih tinggi atau jika kondisinya hanya mengharuskanmu membuat sejumlah kecil langkah. Dan tentu saja, karena itu sebuah Game maka itu juga akan lebih sulit jika jumlah bloknya—levelnya, ditambahkan.
Dalam slide puzzle 9x9, bahkan dengan enigmatologi sekalipun kau masih akan butuh setidaknya satu jam untuk selesai, belum lagi untuk 9x10, 10x10. Dan di atas itu—permainan mungkin membutuhkan analisis komputer karena kebanyakan orang akan menyerah.
..... Jadi setelah selesai mendeskripsikan Game ini ke dalam kenyataan—ayo lihat.
Slide puzzle yang menuliskan 1 - 143 angka romawi tersusun di atas blok 12x12—membentang di depan Shion seolah itu adalah jalan penghubung antara dirinya dan kubus semi transparan dimana ‘player keenam’ ada di sana.
“Hey kau—kau bisa mendengarku kan? Atau itu kedap terhadap suara?”
Dan, tidak ada jawaban.
Pilihan ‘bisa mendengarku’ dieliminasi dari otaknya.
Lalu—Shion mengambil beberapa langkah ke depan, saat ia akan menyentuhkan tangannya dengan kubus, dia melihat—terpantul dalam mata emasnya adalah seorang gadis manusia yang bersandar di dalam dinding kubus tepat di hadapan Shion, duduk sambil memeluk lututnya, ‘dia’ mengubur kepalanya di antara kakinya.
Secara samar Shion mampu melihat melalui warna biru semi transparan adalah rambut emas yang menutupi jaket biru kusut sekaligus seluruh kepala perempuan itu. Kepadanya, Shion menjelaskan—
“Aku tidak mengenalmu ataupun peduli pada keselamatanmu tapi, mau tidak mau kau harus keluar dari dimensi ini. Nah benar... puzzle itu mungkin adalah kuncinya-------tidak, bukan ‘mungkin’. Tidak salah lagi itu kuncinya...... aku masih punya sedikit waktu, jika aku menyelesaikannya dengan cepat itu seharusnya mungkin. Benar, itu seharusnya masih mungkin------tidak.... sialan!!”
Sambil memukul permukaan kubus, dia seperti orang yang berbeda. Sifat tenang yang sebelumnya—lenyap, dan sejumlah besar emosi yang dipenuhi oleh akal sehat mulai meluap dalam dirinya.
-- Bukan..... kau salah---!!
Itulah akal sehat.
-- Waktu, harapan—kau tidak punya cukup waktu. Bahkan orang sepertimu tidak diijinkan berharap untuk setidaknya kau bisa melakukannya jika bekerja keras!!
Shion tidak mempunyai kemampuan analisis komputer untuk menyelesaikan puzzle yang sekarang ada di belakangnya hanya dengan sisa waktunya, tapi! Tapi meski begitu, tidak! Justru karena itulah, karena dia menyadari kelemahannya dia bisa melihat setidaknya di masa depan, dengan semua keadaan yang ada memenuhi ekspektasinya adalah—mustahil.
Tanpa melihat apapun selain kenyataan tersebut di depan matanya, Shion di dalam pikirannya juga menyalahkan dirinya sendiri. Dan lalu.... remaja itu yang hanya seorang ras terlemah di alam semesta, menyadarinya, dan kemudian—dia juga telah menerimanya.
“------Apa-apaan, tentang omong kosong kemenangan ini..... Bagian mananya—dari ini kau pikir adalah menang—! Bahkan jika aku berhasil membunuhnya, jika peraturan itu dilanggar itu hanya akan jadi sebuah stalemate(imbang)! Jadi....”
Shion berbalik. Dan mengatakan sesuatu dengan nada yang kekurangan kehangatan.
“Ini saatnya mengakuinya.... di dunia ini untuk kepingan sampah sepertiku---sesuatu seperti harapan—tidaklah ada.”
Remaja itu, dengan berpegang pada kenyataan(akal sehat) telah menerimanya. Jika dia pergi memainkan Game yang dibuat oleh Creator sekalipun, dia juga ‘tidak akan’ menang. Lalu, untuk apa memainkan Game yang tidak mungkin bisa kau menangkan? Terus menerus kalah kalah dan kalah—apa itu menyenangkan---? Tidak...----
“Berhenti main-main denganku bajingan.... bukan untuk itu aku dan adikku dulu memainkan sebuah Game...”
--------------“Lalu untuk..... apa....? Aku ingin tahu.....”
Tersenyum pahit, Shion setelah mendengarkan pertanyaan itu—di hatinya dia tertawa seperti orang gila.
“Apa—seperti yang kuduga, kau, bukannya itu... mendengarku...”
Orang yang bicara—selain Shion orang lain yang ada di sana hanya ada dia. Bahkan jika Shion ingin mempercayai fakta bahwa sang Creator bisa merubah wujud dan juga suaranya—untuk saat ini, dia membuang pikiran itu dan mempercayainya bahwa gadis itulah yang bicara.
Meskipun Shion tidak menoleh pada suara itu, dia berbalik, dan bersandar di sisi kubus. Mengatakan ini.
“Aku tidak tahu apapun soalmu jadi... Player keenam—kau mungkin tidak tahu apa artinya itu tapi aku bicara padamu..... Ini mungkin permintaan yang jika dikatakan aku pasti berharap terlalu banyak. Tapi bisakah kau setidaknya mendengarku?”
“Tidak bisa dimengerti.... sebelum itu, kamu harus... menjawab pertanyaanku, kan? ‘Untuk apa kalian berdua bermain Game?’ itu yang aku tanyakan.”
Dengan kalimat yang gelap dan tanpa kehangatan, perempuan itu mengatakan setiap kata sambil membenamkan wajahnya di antara kakinya.
“ ‘Untuk apa bermain Game’ itu yang kau tanyakan. Oke, pertama, kau tidak harus memikirkannya karena Game itu bagaimanapun juga itu tidak berguna, jadi pertanyaan ‘untuk apa’ itu sendiri sebenarnya adalah kontradiksi---dihentikan dengan satu alasan di atas, kau tidak perlu bermain Game. Tapi sebenarnya..... kau tahu, bahkan Game tidak berguna seperti itu juga, jika—jika aku bisa memainkannya dengan adikku itu akan lebih lebih menyenangkan dibanding apapun----”
........ Kemudian, di akhir penyataan itu..... Shion juga menambahkan, berguman seolah tidak ingin siapapun mendengarnya. “Sial---bahkan jika aku harus memohon ribuan kali aku ingin memelukmu Ruri....”
Gadis itu setelah mendengarkan dia melihat pada Shion. Terpantul dalam mata birunya adalah seorang remaja dengan rambut putih dan jaket berwarna merah, bersandar pada dinding tepat di belakangnya, dengan wajah yang tidak bisa dia lihat karena Shion melihat ke arah lain. Tapi gadis itu merasakannya—kehadiran dari ‘eksistensi yang ia kenal’.
-- Leader....?
-------Itu yang dia pikirkan. Shion tidak tahu. Itu sesuatu yang hanya gadis itu sendiri di dunia ini tahu. Dan dia mengatakannya—
“Leader...!”
Kali ini bukan memikirkannya tapi benar-benar mengatakannya.
Mengatakannya dan merasa terkejut dengan kata-katanya sendiri. Bahkan jika dia telah mengenali suara remaja itu sejak beberapa saat yang lalu, dia membuang pikiran tersebut dan mengabaikannya seakan itu adalah hal yang terlalu melegakan jika sampai terjadi, sehingga dia tidak bisa mempercayainya. Tapi kali ini, ia juga telah melihatnya.
Meskipun ada banyak perasaan memenuhi hatinya, apa yang paling ia rasakan adalah kegembiraan bahwa ia memerah karena orang yang dia panggil leader ada di sana.
Dia tidak punya cara untuk menyembunyikan kegembiraan di dalam dadanya, dan banyak perasaan kompleks mulai meluap-luap.....
“Lea, leader! Kau ke sini—HIGII---!?”
Perempuan itu bergegas maju, tapi wajahnya membentur sisi kubus dan hidungnya mulai berdarah sementara ia membuat suara ratapan aneh.
“Hah, apa yang kau lakukan?”
..........------------Dan, mata mereka bertemu...-----
Itu hanya sesaat—sebenarnya, itu seharusnya hanya untuk sesaat, tapi bagi mereka itu adalah saat-saat yang panjang seakan mereka berdua dipaksa memacu otaknya hingga overheat untuk memastikan keberadaan di depannya.
“Lea... der...?”
Koreksi—bukan ‘mereka’, tapi hanya Shion yang memacu otaknya terlalu keras. Karena apa yang tercermin dari mata emasnya itu adalah—
“Leader, ini aku! Konokoneko Ruri, lho!”
—Adalah adik perempuannya.
-- Part 5 --
-- Tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin.
Jelas itu mustahil.
Karena adik perempuan Shion, Konokoneko Ruri—yang terjadi 200 tahun yang lalu. Shion menyaksikannya dengan matanya sendiri, tidak mungkin dia salah.
-- Jadi untuk alasan itu kau memintaku kan, XeeX!!
Sang Creator, XeeX—menjadi bidak dalam permainan yang dia(XeeX) lihat di telapak tangannya—Shion akhirnya menyadari hal ini.
Tapi berpikir lebih jauh lagi, semuanya seharusnya menjadi jelas. Dan dia mengatakannya.
“Aku bukan leader yang kau kenal. Dan juga kau tidak sama dengan Konokoneko Ruri yang aku kenal.”
“Kenapa?”
Memikirkan itu menyakiti jauh di dalam dada—hati, milik Shion. Tapi dia tetap harus memberitahunya.
“Itu karena adik perempuanku, dengan kata lain karena Konokoneko Ruri yang kukenal, dia sudah—tidak ada lagi.... itu sudah sangat lama. Jadi bisakah...”
“Tidak bisa mengerti. Tapi aku ada, di sini, leade—”
“Jadi bisakah kau TOLONG DIAMLAH!!”
Dengan kalimat yang seketika berubah dari memohon menjadi membentak, Shion memukul kubus dengan tangannya. Jika itu dinding biasa tulangnya pasti sudah hancur, atau setidaknya akan mengeluarkan darah.
Kemudian Shion menundukkan kepalanya—tidak, lebih tepatnya menyandarkan kepalanya.
....................------
“Dulu leader dan aku juga sering bersandar bersama, meskipun yang kami gunakan adalah punggung, sih... bukan kepala seperti ini.”
Ruri juga melakukannya sama seperti Shion. Jika dinding itu tidak ada dahi mereka pasti sudah saling menyentuh satu sama lain.
Tapi Shion, yang mengerti itu, sambil menyembunyikan ekspresinya berbalik.
-- Kalau itu aku juga, dulu sekali sudah sangat lama. Sekarang hanya masa lalu.
........ Kemudian, dia mengatakan.
“Gamenya masih belum selesai.”
Itu karena permainan ini perlu untuk diselesaikan, dan karena itu juga mereka harus melanjutkannya.
“Karena dengan tanganku sendiri aku tidak bisa menyelesaikannya, tapi jika...”
Shion memikirkannya.
-- Jika dia sama seperti Ruri—aku akan memohon padamu dewa. Janji yang kubuat bersama Ruri waktu itu—aku mohon ingatlah, dan selanjutnya biarkan kami menyelesaikannya.
“Jika, kita melakukannya bersama pasti akan berbeda.” Dia mengatakan ‘pasti’, bukan ‘mungkin’. Karena dia bisa merasakannya dan dia telah yakin di dalam hatinya.
Kalau begitu, benar.
“Berapa sisa waktunya?”
“Aku tidak terlalu yakin, tapi, kurang lebih itu ada di sekitar 15 menit.”
-----Sisa waktunya ditentukan. Kondisi kemenangannya adalah menyelesaikan slide puzzle 12x12 kotak dalam waktu kurang dari 15 menit, melewati waktu itu akan dianggap sebagai kekalahan.
Jika itu jelas maka—
-- Ayo mulai Game seperti ini.
Shion tersenyum pahit. Karena apa yang harus mereka berdua capai adalah hal yang ada di luar batas standar(akal sehat).
Tapi bagi mereka—sebagai kakak beradik—sebagai leader dan Konokoneko Ruri, akal sehat itu sendiri adalah----itu benar....
-----Sampai akhir, adalah sesuatu untuk dirusak!
“12.... tidak, 7 menit.”
-- Jika aku bersama leader aku pasti bisa menyelesaikannya dalam 7 menit. Jadi—
“Ayo selesaikan Game ini dalam 7 menit!”
.... Mengangguk, mereka mengumumkan proklamasi besar mereka.
“Kalau begitu, Ruri—”
-- Tepat sekali.
--- “ “Ayo tentukan bagaimana kita melihat endingnya!” ” ---
Dan Game seperti itu dimulai, mematuhi aturan permainan yang telah ditetapkan.
-- Part 6 –
Puzzle kombinasi yang menantang pemain untuk membuat konfigurasi akhir dengan menggeser fragment(potongan) di sepanjang papan dua dimensi—dengan nama lain slide puzzle.
Dalam semua Game, ada sebuah taktik yang dibangun. Itu adalah sesuatu yang ada di atas spesifikasi dan aturan; dan merupakan langkah terbaik yang paling mungkin dimaksimalkan. Dalam sebuah Game, itu adalah strategi, dan, ‘harga diri’ seorang Gamer.
Dalam dunia di mana segala hal ditentukan oleh aturan dan kondisi kemenangan—tingkat kesulitan sebuah Game, aturan permainan dan kemampuan bermain player harus telah dipertimbangkan sejak awal.
..... Tapi bagaimana jika—menantang Game yang tidak bisa dimenangkan, kamu secara terbuka melawannya dan justru tanpa ragu mempercayai kemenanganmu hanya karena satu orang baru saja ditambahkan. Apa itu salah?
Ya itu salah....
Semua orang akan tanpa ragu—secara alami mengatakan kalau itu salah.
..............-------
“Kanan kanan, atas kiri atas kiri.”
Kemampuan analisis, perhitungan matematis dan movement skill. Memaksimalkan semua faktor penentu yang dibutuhkan ke dalam sebuah Game, seorang Zombist dan manusia belaka mengubah ‘mustahil’ menjadi ‘mungkin’—seperti keinginan mereka. Di mata orang lain itu memang ‘salah’ tapi—itulah yang Shion dan Ruri, mereka berdua anggap itu sebagai ‘kebenaran’.
Dan untuk orang-orang yang tanpa ragu menyerah pada kemustahilan itu, aku punya kata-kata yang bagus untukmu---
...... Jangan samakan cara hidup kalian denganku, noob sialan.
Tepat sekali, adalah alami jika kebanyakan orang akan ‘tidak bisa melakukan’. Tapi tolong untuk jangan menyamakan orang-orang seperti mereka dengan ‘mereka berdua’. Karena mereka berdua—karena Shion dan juga Konokoneko Ruri telah benar-benar menantang akal sehat—dan menjatuhkannya.
............-------
7 menit 15 detik------permainan berakhir.
Dengan mata emas dan birunya mereka menyaksikan saat dimensi dihancurkan. Alam semesta mengalami keretakan di berbagai sisi, lalu kubus yang menyegel si gadis manusia, Konokoneko Ruri juga mulai mengalami distorsi—dan menghilang.
---------------.............
“Ini, dimana...?”
Fraclayfe, dunia papan permainan dan kata. Mereka kembali ke dunia sebelumnya—
“Tempat sebelum aku pergi ke dimensi tadi. XeeX pasti memindahkan kita ke sini sebelum dimensi itu benar-benar rusak.”
Di dalam spekulasi Shion ada tingkat kemungkinan yang tinggi. Tapi pada pernyataan itu Ruri memiringkan kepalanya, dan bertanya.
“XeeX, apa itu.... sebuah nama?”
“Hah?”
.............
.................... Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Shion tiba-tiba memiliki keinginan berteriak di dalam dirinya.
Nama dari sang Creator, XeeX—tidak mengetahuinya adalah hal yang mustahil kecuali jika seseorang selama hidupnya dikarantina dari dunia luar, atau jika—Shion memikirkannya kembali.
“Aku memang sudah membuang dugaan ini tapi.... Ruri, apa sebenarnya kamu bukan berasal dari dunia permainan dan susunan kata ini?---Atau setidaknya pernah tidak kamu mendengar tentang Betting Game dan Fraclayfe Word?”
*Menggeleng~~
“Begitu.”
“..... Kamu tidak terlihat.... kaget, huh.”
“Yah....” Karena---- “Aku mengenal seseorang yang juga berasal dari tempat selain Fraclayfe. Dia menyebut itu dunia tekonologi dan sains.”
Dan jika mereka berdua memang berasal dari tempat yang sama Ruri pasti akan mengetahui banyak hal dengan bertemu dia. Atau barangkali, kemungkinan kecilnya mereka akan mampu mengungkap kebenaran di balik keberadaan mereka di dunia Fraclayfe.
“Mungkin saja aku dan dia pernah, bertemu? Dunia tekonologi dan sains, aku mungkin mengenalnya----Eh....”
-----------Seketika, saat ini, yang menghentikan kata-kata Ruri adalah pemandangan di mana warna langit telah berubah hanya dengan hitungan detik.
Langit kehitaman yang membuat siapapun berpikir ini adalah malam hari menghilang seperti waktu baru saja diputar.
Di dalam waktu yang diputar itu—di dalam Fraclayfe, langit yang sepenuhnya berwarna biru tidak pernah ada, atau hanya tidak ada yang mengingatnya.
Sedangkan yang sedang Konokoneko Ruri saksikan di balik kumpulan awan putih itu adalah alam semesta yang sama sekali berbeda, karena alam semesta yang dilihatnya sekarang menyimpan tujuh warna langit Fraclayfe.
“Kudengar darinya di duniamu langit berwarna biru, huh.”
“Iya tapi... apa yang terjadi? Bukannya itu—”
“Gerhana matahari.”
“Huh? Kamu tahu apa itu gerhana?”
“Salah satu dari satu juta lebih pengetahuan yang orang itu bawa dari dunianya, seluruhnya ada di sini.”
Sambil mengatakan itu, Shion menunjukkan papan perangkat metalik dari balik jaketnya.
“Device itu tidak salah lagi memang dari duniaku. Tapi kenapa ‘gerhana matahari’? Apa itu di sini sering terjadi?”
Pada Ruri yang bertanya sambil mengerutkan dahinya, Shion menjetikkan jari, berkata.
“Time limit. Tadi aku bilang masih ada 15 menit tapi, sebenarnya aku salah. Aku lega kita berhasil di saat-saat terakhir. Kerja bagus, Ruri.”
Memang, itu sudah sangat lama sejak Shion terakhir kali merasa sesenang ini karena bermain Game. Dan yang pasti, ya pasti itu ada alasannya, meskipun itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan sekarang.
Dan berdasarkan apa yang Shion katakan, dengan kata lain ia telah memperkirakan akan adanya gerhana matahari dan bahkan mampu membaca sampai menit terdekat.
“Aku yakin ada banyak hal yang ingin kau tanyakan tentang Fraclayfe atau yang lain, tapi.... untuk sekarang—”
Shion mengatakan, dengan serius.
“Ada hal yang harus kuakhiri.”
Suasana di sekitar mereka, seketika—koreksi, intonasi yang Shion gunakan ketika berbicara berubah—sekali lagi koreksi, bukan suaranya yang berubah, melainkan aura yang dia berikan dari kata-katanyalah yang memberi kesan seolah tekanannya berubah, seolah ada orang lain yang bicara. Tapi...
Tapi Ruri, meski tahu itu dia mencoba bersikeras akan satu hal.
“Ya, itu... benar. Memang ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tapi...! Tapi yang paling ingin aku tahu bukan soal dunia ini atau semacam itu. Itu adalah.... kamu tahu, namamu, aku belum mendengar namamu.”
Sambil menyampaikan itu Ruri juga—di dalam hatinya berharap.
-- Jika dia sama seperti leader.... aku mohon........ ‘Shion’.
“Ah, itu—benar juga, aku belum memberitahumu. Namaku Shion.”
Mata Ruri terbuka lebar. Dadanya mulai sedikit panas dan di wajahnya agak mendapati warna merah.
------Seperti ‘dia’ yang Ruri panggil leader, nama remaja itu sebagaimana ia memperkenalkan dirinya adalah Shion.
Di saat pikiran Ruri terus bergerak dan membuatnya seperti afk, Shion mulai berjalan sebelum kemudian berhenti setelah beberapa langkah, lalu memanggil Ruri.
“Kenapa, kau tidak mau ikut? Kalau masih ada pertanyaan lain aku bisa menjawabmu sambil berjalan.”
----“A, ah, iya...”
Jauh di dalam hatinya, sambil tersenyum di belakang Shion Konokoneko Ruri berpikir.
-- Banyak, ada—sangat banyak kau tahu.... ? Leader. Yang ingin Ruri tahu tentangmu ada sangat banyak.
-- Part 7 –
- Betting Game berskala besar yang dimulai delapan hari dari sekarang.
Untuk mengikuti Betting Game, kau perlu bergabung dalam Alliance atau membuat Alliance-mu sendiri. Setiap individu di Fraclayfe yang Shion tahu telah bergabung ke dalam Alliance, tapi mereka tidak bergabung untuk sekedar akses mengikuti Betting Game.
Melainkan, itu karena esensi yang lahir sebagai simbol dari Alliance—atau disebut juga ‘Crest’, beberapa di antara mereka menyimpan kekuatan besar yang bahkan unique skill tidak dapat mengimbanginya. Dan dalam sebuah kasus, itu akan mengubah alur permainan dalam sekejap. Hanya dengan bergabung ke dalam Alliance kau bisa mendapatkan satu.
Dengan alasan ini, jika kau melihat seseorang yang tidak bergabung dengan Alliance manapun maka mereka mungkin memang bukan berasal dari Fraclayfe.
“Lalu sebagai player keenam kau perlu Alliance untuk berpartisipasi----atau kalau kau mau kamu bisa bergabung dengan Alliance-ku.”
“Aku boleh, bergabung?”
“Hanya ada dua member selain aku dan Crest kami juga tidak menakjubkan. Itu benar-benar sampah dibanding Alliance lain sampai-sampai jika kau membuat peringkat setiap Alliance yang ada punyaku mungkin akan jatuh di sekitar satu juta dari satu juta. Bagaimana menurutku, keren kan?”
“Tidak.” Berhenti melangkahkan kakinya, Ruri membuat jawaban langsung. Namun ia segera malanjutkan kalimatnya. “Tapi pasti akan menyenangkan. Aku, bergabung.”
Menghadap Ruri yang berhenti, Shion juga berhenti sebelum kemudian mengulurkan tangannya.
“Kau diterima. Ulurkan tanganmu.”
Dan lalu—
Di antara tangan mereka yang saling terulur, poligon dan cahaya kebiruan mulai menyinari sekitar.
“Sendirian di dunia yang tidak aku ketahui.”
Itu yang Ruri rasakan. Jika dia tidak beruntung gadis manusia lemah yang tidak tahu apapun itu akan mengikuti hukum alam sebelum kemudian mati sebagai kemungkinan terburuknya.
Bagaimapapun juga, setelah memasuki dunia ini dia dibuang, disegel, dan dikucilkan ke dimensi yang sama sekali berbeda. Shion memang menyelamatkannya, tapi dia tidak bisa bilang kalau Konokoneko Ruri beruntung telah memasuki dunia ini.
“Um, kamu tahu? Dulu aku juga seperti ini sebelum leader menyelamatkanku. Jika tidak ada leader aku pasti masih menjalani kehidupan yang kosong sampai sekarang. Tapi saat ini leader sedang tidak ada di sisiku, jadi kupikir, aku akan menjalani kehidupan hampa lagi seperti dulu.”
-- Jadi karena itu, saat kami pertama bertemu dia....
Sama seperti Ruri, bagi Shion, roda waktu yang menyenangkan sudah menghilang sejak adik perempuannya pergi. Hanya dengan satu janji yang ia buat bersamanya—jika dia tidak pernah membuat janji itu Shion pasti telah jatuh ke dalam kehidupan kosong seperti yang Ruri katakan.
Tiba-tiba, Ruri menyatakan perasaannya.
“Jadi bolehkah... apa mungkin, jika kamu mengijinkannya aku ingin menjadi adik perempuanmu..... apa itu tidak, boleh?”
Shion dan Konokoneko Ruri.
Apa yang mereka berdua inginkan, lihat, dan rasakan adalah sesuatu yang serupa. Mereka ada dalam keadaan yang saling membutuhkan satu sama lain.
Jika itu Shion maka adalah adik perempuannya, jika itu Ruri maka adalah orang yang ia panggil leader.
Shion dan leader, Ruri dan juga adik perempuan Shion—mungkin benar mereka bukanlah orang yang sama. Meski begitu, semua orang memiliki hak untuk mendapatkan suatu kebahagiaan, jadi apa salah untuk seorang individu lemah mengharapkan hal yang serupa?
Tidak, itu tidak salah.
“Aku menolak.”
-------..............................................
Itu tidak salah tapi—Shion menolaknya.
Dia tahu dan telah mempertimbangkannya tentang hal-hal seperti ini.
-------Gerhana matahari yang muncul tepat 8 hari sebelum Game yang diadakan oleh Creator dimulai. Untuk mengikuti Game itu seorang Zombist harus menyelesaikan Neverending Game 200 tahun miliknya atau dalam peraturan dia tidak diijinkan untuk keluar dari pulau.
Lalu jika, dengan memanfaatkan Gerhana matahari dia bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi kondisi kemenangannya, mengikuti peraturan—Neverending Game tersebut baru akan berakhir setelah 7 hari sejak lawan tidak menggunakan skill terbaiknya—atau dengan kata lain itu akan berakhir tepat satu hari sebelum Game yang dibuat oleh Creator dimulai.
Dan kemudian sesuatu yang tidak terduga seperti kemunculan player keenam terjadi tepat di hari di mana Zombist itu harus menyelesaikan Neverending Game-nya, terlebih lagi, player keenam adalah eksistensi yang mirip dengan adik perempuan Shion—dengan rambut emas dan sepasang mata biru yang mencerminkan langit di dunia teknologi dan sains, seorang gadis manusia yang dipanggil Konokoneko Ruri.
-- Kalau begitu semuanya sudah jelas, ya kan? Aku sudah lelah kau tahu...
Dan Shion—membuat penolakan.
-- Aku menolak hidup dengan mengikuti takdir yang kau siapkan, sialan...---
Dan karena itulah dia bersikeras.
-- Konokoneko Ruri, adikku itu, tidak mungkin sama dengan orang ini. Bahkan jika kau(XeeX) memohon untuk menjadikannya adik perempuanku, tetap saja! Mana mungkin aku bisa menerimanya kan, sialan!!
-- Tapi setidaknya, jika aku diijinkan untuk memohon hal yang lain aku ingin—
“Ruri, aku mohon jadilah Heroine-ku.”
-- Part 8 –
Pertama kali bertemu dengan adik perempuanku, aku pernah berpikir dunia ini adalah keberadaan yang sangat bodoh—tidak pasti dan tidak mungkin untuk dapat diandalkan.
Dan lalu, sampai kapanpun ayo terus mempercayainya—cara berpikir seperti itu.
.........-------
Mengambil skill card kosong yang tercipta dari ribuan cahaya bintang, Shion memandang rendah Zenth D’Arc Moongarden yang bahkan di antara para Vhampires adalah salah satu yang dijuluki sebagai Nosferatu(penguasa malam).
Namun di hadapan Shion saat ini, apa yang dia lihat dari Vhampires itu hanyalah seorang bocah laki-laki 12 tahun, bersandar di depan batu hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Seorang ras Vhampires—jika saat ini adalah kondisi terbaiknya maka dia tidak perlu kerepotan membunuh Zombist di depannya hanya dengan tiga detik—tapi di bawah matahari perak yang berwarna seperti bongkahan es, mengangkat satu tangan bahkan sudah menjadi batasnya.
“Haha... jadi begitu ya.... legenda itu, itu kamu juga yang membuatnya.”
Meskipun dia mencoba menertawakan keadaannya sendiri, Zenth mengernyit pahit di dalam.
“Membuat labirin hanya untuk membodohi seorang Vhampires dan belum lagi aku harus memancingmu masuk ke dalamnya, hah.... aku percaya tidak banyak yang lebih merepotkan dari ini sepanjang hidupku.”
“Sungguh, sedangkan aku seharusnya lebih percaya pada ramalan kartuku daripada memasuki labirin buatanmu, huh. Siapa sangka artefak yang menjelaskan tentang gerhana itu sebenarnya palsu. Yah kau sudah benar-benar menipuku, Zombist. Aku harus minta maaf pada Dewi Selene karena rasa raguku, kan...”
Di dalam artefak yang Zenth dulunya temukan, Shion memasukkan banyak sekali fakta tentang gerhana matahari sehingga tidak mempertimbangkan kebenarannya adalah keputusan yang sulit—bukan, dengan keahlian Shion untuk melihat dan memanipulasi cara berpikir musuh tidak mempercayai artefak yang dia sendiri ciptakan akan menjadi hampir mustahil dilakukan.
Dengan pemilihan kata-kata yang tepat, dia hanya harus menanamkan cara berpikir seperti ini—‘lalu saat gerhana itu terjadi, seorang ras Vhampires akan membuka kekuatan sejatinya dengan tertidur di bawah cahaya bulan’.
Dengan kata lain Zenth harus menghilangkan kesadarannya tepat ketika gerhana matahari dan perlu tertidur di bawah cahaya bulan—yang membuat Zenth D’Arc Moongarden kehilangan kekuatannya begitu gerhana matahari berakhir.
Sejak 200 tahun lalu, Shion memikirkan segala cara yang mungkin dia gunakan, tapi, itu hanya satu tahun sejak ia bertemu dengan sang Creator dan seorang remaja laki-laki dari dunia teknologi dan sains—ia pada akhirnya, dengan tangannya sendiri membawa stalemate(imbang) 200 tahun ini pada checkmate(akhir).
Untuk itu dia memainkan semua kartu yang dapat digunakan—menipu Zenth, membuat legenda yang justru membawa Zenth pada kehancuran dirinya sendiri, dan lalu mengambil skill terbaiknya. Itulah cara Shion mengadopsi kemenangan.
Dengan senyuman pahit, Shion membuka mulutnya—ia menetapkan sebuah penegasan.
“Kalah adalah standar bagi yang lemah.”
Tepat sekali. Itu karena yang kuat selalu menggunakan kekuatan mereka untuk mengintimidasi, membunuh, mengancam dan menghancurkan yang lemah, itulah kenapa yang lemah selalu kalah.
“Tapi meski benar begitu sekalipun—tidak.... bukan, justru karena itulah kebenarannya, karena yang lemah tidak terikat oleh ilusi aneh yang dikenal sebagai rasa percaya dirilah—yang membuat mereka kuat.”
Dan bagi yang lemah untuk mengerti fakta di mana mereka sudah kalah hanya dengan mempertimbangkan statistik awal permainan, menang melawan yang kuat memang tidak lebih dari omong kosong anak kecil namun, justru itulah kenapa, mereka, sebagai yang lemah adalah pihak yang paling memiliki kualifikasi melihat dan menggunakan segalanya selain ‘kekuatan’ mereka.
Dengan senjata terkuat yang lemah—dengan kata lain dengan ‘kelemahan’ mereka mengasah pengetahuan mereka—kebijaksanaan mereka.
“Dan lalu—sebagai keberadaan yang terus-menerus diinjak kami akan mengambil kemenangan melawan yang kuat----------Aku akan membuktikannya padamu.”
Menunjukkan kartu sederhana di tangannya ke arah Zenth—dia bilang bahwa dia akan membuktikannya. Lalu ayo buktikan.
“Kepada seluruh bintang(jiwa) di dalam 13 konstilasi aku bertanya pada kalian semua---apa tidak mungkin bagi kita(ras tanpa nama)?”
“<<—Dzeus—>> [salah]”
Melalui perangkat metalik Zvaigner [penghubung bintang] di telinga Shion—jawaban dari seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang didengarkan.
“Aku lelah terus-menerus stalemate yang tidak jelas kapan akan berakhir ini. Jika itu tidak diinginkan(kalah) maka kita akan sesuaikan(menang). Itulah kita(ras tanpa nama).”
“<<—Zweisz—>> [benar]”
Dan kemudian, seorang remaja yang hanya seorang Zombist, dia menegaskan.
“Hidup dengan kekalahan masa lalu, pergi dengan kegagalan—kita kembali dengan kemenangan.”
“<<—Cardial—>> [Activate]”
- Konokoneko Ruri.
Dia menilai Shion adalah leader pada kali permatanya dia melihat Shion. Karena dia telah benar-benar merasa putus asa, hancur, dan berharap—melihat dari penampilan dan cara berpikir—dari segala hal Shion memang terlihat seperti leader yang membuat Ruri tidak bisa tidak berharap pada fakta ini.
Tapi justru karena itulah—karena Ruri terlalu mempercayai hal itulah yang membuat dirinya mendapatkan penolakan. Tapi sekarang, dia bisa menegaskan.
Ini dia. Arti sebenarnya—dari apa yang dilihatnya pertama kali dia bertemu Shion. Jika itu sekarang, maka Ruri bisa menjawab dengan yakin dan bangga. Inilah harga diri—keyakinan. Itulah apa yang dia(Konokoneko Ruri) yang menjadi lemah sejak leader tidak ada di sisinya tidak bisa miliki.
Zenth D’Arc Moongarden berkata lemah.
“Orang di belakangmu itu... dia terlihat sama seperti adikmu, kan.......... Ruri—kalau tidak salah.”
Itu benar, tapi... itu bukanlah dia.
“.......-----------Konokoneko Ruri-----remaja wanita yang kau buat mati di tanganmu. Mendengar nama Ruri keluar dari mulutmu entah kenapa aku ingin membakar tenggorokanmu.”
“---Hahh.... sebegitu bencinya kau padaku, Zombist. Ya aku paham, perasaanmu, aku masih mengingatnya. Sebagai individu manusia tanpa skill kuat apapun dia jauh melampaui definisi kata menakjubkan bahkan di antara ras lain. Adikmu punya kemampuan mutlak dalam perhitungan matematis, tapi, tetap saja.... dia hanya ‘alat’.”
“Diam kau Vhampires.”
Shion masih bisa menahan amarahnya jika itu sekarang. Jika itu 200 tahun yang lalu, tanpa basa-basi dia pasti sudah memukul wajah Zenth tidak peduli sekuat apapun ras Vhampires itu, tapi sekarang, dia mengernyit pahit di dalam.
Mengabaikan hawa kebencian yang keluar langsung dari mata Shion, Zenth melanjutkan.
“Meski begitu, sebagai kakak laki-lakinya...... bukan—lebih tepatnya, kalian masih belum menjadi saudara karena itu pertama kali kalian bertemu. Di saat itulah kau yang hanya seorang Zombist, dengan keegoisanmu menolak gadis muda itu untuk hanya menjadi sekedar ‘alat’....... Sebuah alat yang menolak untuk terus menjadi alat—tidakkah kau pikir itu terlalu angkuh? Tapi dia sendiri menolak untuk memikirkan dirinya sebagai manusia, jadi.... Itulah kenapa, kau, Shion sebagai kakaknya membuat batasan antara manusia dan tidak. Itulah Alliance yang kalian buat 200 tahun yang lalu. Jujur saja Zombist, itu cuma sampah.”
- Membuat batasan antara manusia dan tidak.
Ruri, sang adik tidak salah lagi memang manusia, meski begitu dia menolak untuk memanggil dirinya sendiri sebagai manusia. Dia bilang bahwa dia adalah alat dan tidak lebih dari itu, tapi Shion menolaknya untuk sekedar hanya menjadi alat. Dia katakan, dengan memohon—[akan kuberikan sebuah tempat untukmu, jadi]—
Dia akan memberikan tempat untuk sang alat tidak perlu terus menjadi alat ataupun manusia. Dan kemudian dia—setelah itu juga menambahkan ‘permintaannya’—[tolong jadilah... adik perempuanku]—
-----...... Itu yang Shion minta—untuk menjadi bagian dari keluarganya. Sesuai janji itu, Shion membuatkan tempat yang ia janjikan.
- Humanless.
Alliance kecil dengan bidak catur sebagai Crest mereka.
Menilai dari seberapa besar ‘nilai’ sebuah Alliance itu memang sampah—tapi bahkan di antara para sampah, bagi Shion itu merupakan permata tak tergantikan.
“Kau tahu Vhampires, jika di matamu Alliance kecil kami memang tidak bernilai maka justru kau sendirilah yang perlu dikasihani.”
“Oh? Jadi kamu akan mengkasihaniku setelah itu membunuhku? Kukira individu sepertimu akan lebih kejam dan realistic, Zombist.”
“Hah...! Menurutmu aku realistic? Cobalahh untuk pikirkan itu lagi... Aku bahkan dari awal bukan realist sama sekali.”
Di tangannya, skill card kosong mulai mengeluarkan cahaya dan kepingan poligon 13 warna. Seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang—masing-masing kekuatan mereka—berkumpul dalam sebuah kartu dua sisi sederhana.
—Shion mengumumkan.
“Checkmate...---”
-- Permainan selesai.
“Aku mengambil skill terkuatmu. Alasanku tidak membunuhmu—kau pasti paham kan? Janji yang aku buat dengan Ruri 200 tahun yang lalu—hanya ada kau, Zenth D’Arc Moongarden—sebagai satunya-satunya orang yang menyaksikannya, maka, mulai sekarang juga kau harus menyaksikannya sampai akhir.”
Untuk janji itu sendiri, Shion kali ini menegaskan.
Benar.
“Humanless Alliance akan menyusun ulang dunia ini—itulah janji yang kami buat.”
“Hahah... itu tidak... lucu, hei... Jika kau tidak membunuhku sekarang Zombist, aku akan membunuhmu setelah ini, malam ini, besok, atau kapanpun, membunuh seorang Zombist belaka hanya hal mudah bagiku.”
Dalam 200 tahun terakhir, Shion masih hidup karena ia memutar otaknya setiap saat untuk menghindari kekalahan, itulah yang menyebabkan stalemate pada Game ini.
Tapi setelah ini, karena ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam Game yang dibuat oleh Creator maka Shion tidak punya pilihan selain untuk menunjukkan dirinya. Jika begitu maka Zenth bisa, dengan mudah, langsung menemukannya dan menghancurkannya..... Tetapi sebelum itu—
“Yah bagaimanapun juga, hal seperti itu tidak akan terjadi.” Shion menjaminnya.
“Karena jika aku mati, maka skill terkuatmu yang sekarang ada dalam kartu ini juga akan menghilang denganku.”
“Dengan kata lain aku harus memohon agar kau mengembalikan skill yang sejak awal memang milikku? Jangan bercanda denganku Zombist. Lebih baik aku membunuhmu.... ”
Pada Zenth yang berbicara sambil menahan sakit karena matahari, Shion mengatakan.
“3 bulan. Mengambil skill individu lain dan menyimpannya itu bukan keahlianku. Aku cuma meminjam dan memakai skill ini untuk tujuanku------3 bulan, itu batas waktu sampai skillmu dikembalikan dengan sendirinya, jadi kau tidak bisa membunuhku sebelum hitung mundurnya selesai.”
“Ya, dan setelah 3 bulan itu aku akan pergi menghancurkanmu, menurutmu itu oke?”
“Hahah, bebas.”
Karena---
“Hanya dalam 3 bulan-----” Dengan senyuman liar, remaja bermata emas di bawah rambut putihnya mengumumkan. “Akan kususun ulang dunia ini.”
.
.
Prolog end!
- Betting Game.
Sebagaimana hal itu tertulis, permainan ini bekerja dengan pertaruhan sederhana. Seperti semacam sistem mutlak ada karena ini sebuah Game.
Tanpa adanya akal sehat permainan yang dikenal sebagai ‘batasan’, apapun bisa kau pertaruhkan di Game ini. Hal yang dalam sebuah permainan akan ditentukan sebagai ‘hadiah kemenangan’ player—sesuatu seperti hak, alasan, harga diri atau keinginan dan perasaan pemain itu sendiri dapat dipertaruhkan di dalam Game sederhana anak kecil.
Terlepas dari metode apa yang kau gunakan. Saat kau menang kau mendapat segalanya, saat kau kalah kau kehilangan segalanya. Tidak peduli sekuat apapun lawan bermainmu, setelah membuat mereka setuju—jatuhkan, curi, pukul dan bunuh.
Di dalam dunia di mana segala hal ditentukan oleh aturan dan kondisi kemenangan, hukuman, aturan permainan dan hadiah kemenangan player terikat dalam satu konstitusi mutlak seperti sebuah system di dalam Game, sehingga menentangnya adalah mustahil, dan bahkan.... lebih daripada itu—
---Akal sehat dunia dapat kau tentukan dengan susunan huruf sederhana. Selama hal yang disebut Fraclayfe word telah membentuk sebuah kata—apapun itu maka, tidak salah lagi, itulah akal sehat—itulah kenyataan.
Kau bisa mengubah apapun yang kau mau, menciptakan apapun yang kau mau di dalam dunia permainan dan kata ini. Dengan Fraclayfe word mengubah ‘tidak ada’ menjadi ‘ada’ adalah seperti keinginan mudah anak kecil.
Potensi besar untuk perubahan alam semesta ini ada di dalam Betting Game dan juga Fraclayfe word—tapi, tapi bahkan dunia semacam itu juga tidak pernah sekalipun berubah.
Dunia yang tidak berubah sama sekali. Itulah kenapa tempat ini adalah, sejak dulu, sejak awal terciptanya adalah eksistensi yang sangat bodoh.
Sebuah alam semesta dimana segala hal ditentukan oleh permainan anak kecil dan susunan huruf sederhana, dengan nama lain-------
- ........ Fraclayfe.
-------..................
Sudah hampir satu tahun sejak dewa(Creator) mengumunkan kepada lima player aturan permainan untuk Betting Game berskala besar.
Dan kemudian hari ini—sang Creator sejak beberapa waktu yang lalu datang mengatakan ini pada salah satu di antara mereka. Kepada Zombist di tengah penyelesaian Neverending Game 200 tahun miliknya—mengatakan “Player keenam, pemain terakhir yang kubicarakan waktu itu, sekarang sudah muncul, kau tahu?”
Seolah pernyataan itu adalah penegasan, dia juga menambahkan “Kubilang, yah kau tahu kan, pergilah jemput ‘dia’ oke~☆”
Lalu untuk menjawabnya, dengan senyum pahit Zombist mengangkat bahu.
-- “Hey hey Creator-kun, kau tidak pernah mengatakan soal ini sebelumnya. Dan juga kenapa itu harus aku, bukankah itu... aneh? Ah tunggu dulu, pertama ini adalah waktu terburuk jika kau ingin menyuruhku melakukan sesuatu seperti menculik seseorang atau semacamnya—karena itu justru akan membuang-buang waktu terbatasku. Juga karena kau adalah Creator harusnya kau tahu tentang ini, jadi, kenapa, ‘justru’ aku?”
“Haha~ kamu mengatakannya seperti aku menyuruhmu berbuat buruk, huh?”
----Kenapa harus, kamu—yah ada alasannya.
Seperti karena itu mungkin akan menyelesaikan masalah di masa lalu yang sudah seharusnya diselesaikan. Seperti karena itu mungkin akan menjadi titik ‘awal’ perubahan. Dan seperti itu mungkin untuk yang ‘selanjutnya’, untuk ‘kemudian’ dan untuk yang ‘berikutnya’.
Itu adalah apa yang sang Creator lihat dari seorang Zombist belaka, tapi... ‘hm aku mungkin menilai terlalu tinggi ya, haha ~☆’.
......... Itu karena dunia ini kau tahu—sebenarnya adalah eksistensi yang bodoh, tidak pasti dan tidak bisa diandalkan—seperti yang kalian berdua(kakak beradik) rasakan.
........----
--- Lebih dari 200 tahun yang lalu.
Betting Game yang memperebutkan dua Fraclayfe word dimulai di tempat yang jauh dari peradaban. Itu lebih jauh dari laut, di bagian barat dunia Fraclayfe di atas pulau kosong tanpa nama.
Pesertanya adalah seorang Zombist dan adik perempuan manusianya, seorang Vhampires dan satu orang yang ‘menyerah’ sejak permainan dimulai.
-----Hasil dari permainan itu adalah—satu orang keluar dari permainan, dan seorang manusia mati—dengan hanya satu Zombist dan Vhampires yang tersisa, Betting Game sejak lebih dari 200 tahun dibawa ke dalam Stalemate(buntu).
Meninggalkan tempat permainan ini berlangsung akan dinyatakan sebagai kekalahan—ini adalah apa yang teman satu tim Vhampires abaikan sejak awal permainan dan membuat sang Vhampires harus melanjutkan permainan seorang diri.
Kondisi kemenangannya.... ditentukan sebagai mencegah lawan menggunakan skill terbaiknya selama 7 hari penuh—168 jam dan tidak kurang dari itu. Selama waktu itulah jika semua pemain lawan tidak menggunakan skill terbaiknya, tim yang lain akan memperoleh kemenangan.
Untuk alasan ini juga, adik perempuan Zombist itu meninggalkannya(mati), sudah 200 tahun yang lalu. Waktu, metode, alasan, dia mengingat setiap detil seolah itu adalah kejadian di saat-saat lalu. Seakan itu adalah ingatan abadi yang tidak mungkin hilang. Hal yang tidak akan pernah dia lupakan.
Untuk melawan yang lemah, daripada mencegahnya memakai skill maka akan lebih mudah membunuhnya saja—tidak salah lagi itu memang akal sehat bagi yang kuat.
Itulah yang mereka berdua(Zombist dan manusia) tidak miliki.
Dan lalu....
........... Hari ini, salah satu dari pemain itu mencoba menggerakkan kembali roda waktu permainan. Sebagai yang lemah dia akan ‘menyerang’, sebagai yang tidak diunggulkan dia ingin membalikkan keadaan musuh. Kalau begitu...
Tepat sekali...... Metodenya hanya satu.
Tertawa tanpa takut----Dia mengumumkan metode(aturan) di dalam hatinya----
-- Untuk orang terbodoh lakukanlah dengan metode terbodoh. Mustahil maka jatuhkan dengan metode mustahil. Gila dan tidak waras maka gunakan metode yang juga gila dan tidak waras. Tidak masuk akal maka hancurkanlah akal sehat.
Itu benar. Lalu, ayo bertaruh.
Bukan lari hanya untuk dimusnahkan oleh yang kuat, tapi bertaruh. Semua musuh yang berdiri di jalan kita, tak peduli siapakah itu, dengan kekuatan kita—dengan kata lain dengan「kelemahan」. Bodohi semuanya; akali, seperti pecundang. Seperti yang lemah. Jenis metodenya tidaklah penting, lakukanlah tanpa malu dan bangga. Disanjung dengan kepengecutan. Dipuji dengan kevulgaran. Dihormati dengan kerendahan diri---
—Dan lalu.... jadilah pemenang.
...... Sama seperti yang kita(kakak beradik) dulu lakukan.... ya kan?
........------
...... Betting Game itu sebenarnya, yang diusulkan secara khusus oleh Creator akan dimulai setelah satu tahun tapi... itu bukan untuk menyiapkan Gamenya, melainkan untuk menunggu semua pemain agar mampu berpartisipasi.
Untuk kemunculan player keenam dan juga Neverending Game 200 tahun yang harus terlebih dahulu diselesaikan.
Tidak salah lagi semuanya ada di dalam rencana sang Creator.
—Kalau begitu ayo lakukan. Seperti yang kau mau, mari selesaikan Betting Game ini dalam satu tahun.
Itu yang sang remaja pikirkan, tapi di saat waktu itu akhirnya datang dan semua persyaratannya terpenuhi—
“Kenapa justru aku... hey jawab pertanyaanku sialan---”
Itu karena-----
“Alasannya yah~☆, bahkan jika aku meneruskannya dan mengatakannya, itu terlalu rumit sampai kamu mungkin akan mulai tidur, tapi....”
Tapi Creator itu, dengan wujudnya yang hanya seekor kucing, menambahkan.
“Atau setidaknya aku bisa memberitahumu yang satu ini oke... Lawan bermainmu, dia mengurung player keenam di dalam dimensi lain dengan hampir seluruh kekuatannya. Sehingga jika rencanamu terus berjalan seperti di kepalamu, Vhampires itu tidak diragukan lagi akan mati.”
Lalu jika dia(Vhampires) mati, ia(Zombist) akan melihat akhir dari Game ini dalam genggamannya. Tidak salah lagi dia menang tapi...
“Jadi begitu caramu menggunakan para player(bidak) yah... dalam berbagai hal itu menggelikan...”
Karena dalam aturan yang ia, sang Zombist kembangkan, ada persyaratan dimana Vhampires itu tidak diperbolehkan sampai mati. Karena jika dia mati semuanya akan berakhir sia-sia. Bukan untuk dirinya, orang lain ataupun dunia tapi, itu hanya untuk adik perempuannya.
“Haha~ jika kamu tahu, aku sebenarnya baik hati lho~ ☆? Benar, aku tidak berbohong kok. Yah aku mungkin sedikit menjahilimu, jadi.... heheh, sebagai gantinya aku bisa mengirimmu ke dimensi itu, apa itu oke~ ☆?”
“Ya ya, semuanya sudah ada di otakmu benar? Merencanakan semua ini dan soal yang akan terjadi di masa depan—lagipula.... ‘dia’ masih tidak boleh mati. Nah aku tidak sedang peduli dengan permainanmu atau semacamnya, tapi itu akan jadi sia-sia jika aku saja tidak bisa keluar dari pulau aneh ini karena aturan.”
Kalah adalah standar bagi yang lemah. Tidak salah lagi itu benar tapi-----
“Nyahaha~ jika hanya untuk menjatuhkan Game semudah itu kau tidak perlu khawatir ya kan. Kalau itu kalian, kalian pasti bisa melakukannya benar. Aku mengharapkan dan mempercayainya ok jadi cepatlah—”
Itu seperti dua sisi koin....
Bagi yang lemah untuk menghancurkan standar mereka hanya perlu membalik satu ‘sisi kalah’ untuk ‘sisi menang’ di belakang itu. Karena itu memang cara kalian(kakak beradik) sejak dulu bermain ya kan.
Jadi cepatlah—
“—Hancurkan orang membosankan itu dan kemarilah! Shi~on---!”
....-------
Tapi, benar. Ada satu kata yang menggangunya.
“.... ‘Kalian’, hah?”
Sesaat setelah nada yang seperti pertanyaan itu datang dari Zombist yang dia panggil Shion, suara tawa datang dari sang Creator, kemudian—ruang di sekitar mereka berubah.
Lalu.....
“Ah~ benar, di sana mungkin akan ada sedikit masalah dengan kunci atau semacamnya, tapi jika itu kalian berdua, yah, hahaha~ ☆. ”
“Hey, apa yang kau.... ma, ksud....-------”
Remaja itu yang menajamkan matanya seolah menunggu sebuah jawaban, melihat—dengan mata emasnya dia menyaksikan saat dimensi di sekitarnya digantikan. Sensasi tanah dan rerumputan yang seharusnya ada menghilang—langit, awan-awan dan matahari terdistorsi dari ruang dimensi. Semua yang tersisa adalah.... sebuah ruangan putih tak berujung, slide puzzle raksasa dan juga kubus semi transparan yang memisahkan antara sang remaja dan seorang gadis manusia.
.......-----
......... Jauh di tempat yang berbeda, bukan sebagai kucing ataupun anak kecil seperti yang pernah remaja itu temui sebagai ‘Creator’—seseorang dengan rambut dan mata hitam berkata.
Bukan sesuatu yang bisa seseorang dengarkan selain dirinya, sambil bermain-main dengan Chess pieces—black queen, dia melempar kata-kata pada kekosongan.
“Tidak ada ‘yang selanjutnya’ untuk sebuah akhir. Tapi di dunia ini kau tahu Shion—mulailah percaya dan berharap untuk hal itu dapat terjadi, lalu mulailah ‘yang selanjutnya’ dengan caramu sendiri........---- yah.... ~hoahm~....... dan lalu bawalah cerita ini pada ending yang akan kau sukai.”
-- Part 4 --
“Waktu yang tersisa..... jangan memikirkannya—aku tahu itu tidak banyak.”
Slide puzzle terbesar dan terumit yang pernah Shion lihat ada di depan matanya.
Seperti dalam kebanyakan permainan puzzle, itu adalah Game menyusun anak-anak untuk menyelesaikan enigma(masalah) yang diberikan sebagai hiburan.
Tingkat kesulitan sebuah Game, cara bermain dan juga metode penyelesaian—setiap jenis puzzle memiliki banyak variasi enigma yang berbeda.
Dalam ‘masalah catur’ itu adalah situasi di mana kau harus men-checkmate raja musuh dalam sejumlah langkah singkat. Dengan tidak adanya batas yang jelas antara langkah mana yang perlu dan tidak boleh kau ambil, kau dituntut untuk menganalisis setiap pola kejadian dan belum lagi membuat langkah paling efektif di atas papan.
Dalam sudoku itu adalah mengisi setiap kotak kosong dengan angka yang tepat tanpa tertimpa oleh angka yang bernilai sama dalam satu kolom ataupun baris.
Dan dalam slide puzzle, itu adalah ‘mengembalikan susunan awal setiap kotak tanpa mengangkat bahkan satu kotak pun dari papan’.
Akan jadi hal yang mudah jika kau mempelajari ‘enigmatologi’ dan menyelesaikan setiap masalah dengan cepat.
Contohnya jika, dalam permainan ini kau menguasai ‘enigmatologi’—maka, kau bisa menyelesaikan slide puzzle 3x3 hanya dalam 3 detik waktu bermain... itu sebenarnya sangat mudah, bahkan kamu bisa lebih cepat jika kecepatanmu membuat gerakan lebih tinggi atau jika kondisinya hanya mengharuskanmu membuat sejumlah kecil langkah. Dan tentu saja, karena itu sebuah Game maka itu juga akan lebih sulit jika jumlah bloknya—levelnya, ditambahkan.
Dalam slide puzzle 9x9, bahkan dengan enigmatologi sekalipun kau masih akan butuh setidaknya satu jam untuk selesai, belum lagi untuk 9x10, 10x10. Dan di atas itu—permainan mungkin membutuhkan analisis komputer karena kebanyakan orang akan menyerah.
..... Jadi setelah selesai mendeskripsikan Game ini ke dalam kenyataan—ayo lihat.
Slide puzzle yang menuliskan 1 - 143 angka romawi tersusun di atas blok 12x12—membentang di depan Shion seolah itu adalah jalan penghubung antara dirinya dan kubus semi transparan dimana ‘player keenam’ ada di sana.
“Hey kau—kau bisa mendengarku kan? Atau itu kedap terhadap suara?”
Dan, tidak ada jawaban.
Pilihan ‘bisa mendengarku’ dieliminasi dari otaknya.
Lalu—Shion mengambil beberapa langkah ke depan, saat ia akan menyentuhkan tangannya dengan kubus, dia melihat—terpantul dalam mata emasnya adalah seorang gadis manusia yang bersandar di dalam dinding kubus tepat di hadapan Shion, duduk sambil memeluk lututnya, ‘dia’ mengubur kepalanya di antara kakinya.
Secara samar Shion mampu melihat melalui warna biru semi transparan adalah rambut emas yang menutupi jaket biru kusut sekaligus seluruh kepala perempuan itu. Kepadanya, Shion menjelaskan—
“Aku tidak mengenalmu ataupun peduli pada keselamatanmu tapi, mau tidak mau kau harus keluar dari dimensi ini. Nah benar... puzzle itu mungkin adalah kuncinya-------tidak, bukan ‘mungkin’. Tidak salah lagi itu kuncinya...... aku masih punya sedikit waktu, jika aku menyelesaikannya dengan cepat itu seharusnya mungkin. Benar, itu seharusnya masih mungkin------tidak.... sialan!!”
Sambil memukul permukaan kubus, dia seperti orang yang berbeda. Sifat tenang yang sebelumnya—lenyap, dan sejumlah besar emosi yang dipenuhi oleh akal sehat mulai meluap dalam dirinya.
-- Bukan..... kau salah---!!
Itulah akal sehat.
-- Waktu, harapan—kau tidak punya cukup waktu. Bahkan orang sepertimu tidak diijinkan berharap untuk setidaknya kau bisa melakukannya jika bekerja keras!!
Shion tidak mempunyai kemampuan analisis komputer untuk menyelesaikan puzzle yang sekarang ada di belakangnya hanya dengan sisa waktunya, tapi! Tapi meski begitu, tidak! Justru karena itulah, karena dia menyadari kelemahannya dia bisa melihat setidaknya di masa depan, dengan semua keadaan yang ada memenuhi ekspektasinya adalah—mustahil.
Tanpa melihat apapun selain kenyataan tersebut di depan matanya, Shion di dalam pikirannya juga menyalahkan dirinya sendiri. Dan lalu.... remaja itu yang hanya seorang ras terlemah di alam semesta, menyadarinya, dan kemudian—dia juga telah menerimanya.
“------Apa-apaan, tentang omong kosong kemenangan ini..... Bagian mananya—dari ini kau pikir adalah menang—! Bahkan jika aku berhasil membunuhnya, jika peraturan itu dilanggar itu hanya akan jadi sebuah stalemate(imbang)! Jadi....”
Shion berbalik. Dan mengatakan sesuatu dengan nada yang kekurangan kehangatan.
“Ini saatnya mengakuinya.... di dunia ini untuk kepingan sampah sepertiku---sesuatu seperti harapan—tidaklah ada.”
Remaja itu, dengan berpegang pada kenyataan(akal sehat) telah menerimanya. Jika dia pergi memainkan Game yang dibuat oleh Creator sekalipun, dia juga ‘tidak akan’ menang. Lalu, untuk apa memainkan Game yang tidak mungkin bisa kau menangkan? Terus menerus kalah kalah dan kalah—apa itu menyenangkan---? Tidak...----
“Berhenti main-main denganku bajingan.... bukan untuk itu aku dan adikku dulu memainkan sebuah Game...”
--------------“Lalu untuk..... apa....? Aku ingin tahu.....”
Tersenyum pahit, Shion setelah mendengarkan pertanyaan itu—di hatinya dia tertawa seperti orang gila.
“Apa—seperti yang kuduga, kau, bukannya itu... mendengarku...”
Orang yang bicara—selain Shion orang lain yang ada di sana hanya ada dia. Bahkan jika Shion ingin mempercayai fakta bahwa sang Creator bisa merubah wujud dan juga suaranya—untuk saat ini, dia membuang pikiran itu dan mempercayainya bahwa gadis itulah yang bicara.
Meskipun Shion tidak menoleh pada suara itu, dia berbalik, dan bersandar di sisi kubus. Mengatakan ini.
“Aku tidak tahu apapun soalmu jadi... Player keenam—kau mungkin tidak tahu apa artinya itu tapi aku bicara padamu..... Ini mungkin permintaan yang jika dikatakan aku pasti berharap terlalu banyak. Tapi bisakah kau setidaknya mendengarku?”
“Tidak bisa dimengerti.... sebelum itu, kamu harus... menjawab pertanyaanku, kan? ‘Untuk apa kalian berdua bermain Game?’ itu yang aku tanyakan.”
Dengan kalimat yang gelap dan tanpa kehangatan, perempuan itu mengatakan setiap kata sambil membenamkan wajahnya di antara kakinya.
“ ‘Untuk apa bermain Game’ itu yang kau tanyakan. Oke, pertama, kau tidak harus memikirkannya karena Game itu bagaimanapun juga itu tidak berguna, jadi pertanyaan ‘untuk apa’ itu sendiri sebenarnya adalah kontradiksi---dihentikan dengan satu alasan di atas, kau tidak perlu bermain Game. Tapi sebenarnya..... kau tahu, bahkan Game tidak berguna seperti itu juga, jika—jika aku bisa memainkannya dengan adikku itu akan lebih lebih menyenangkan dibanding apapun----”
........ Kemudian, di akhir penyataan itu..... Shion juga menambahkan, berguman seolah tidak ingin siapapun mendengarnya. “Sial---bahkan jika aku harus memohon ribuan kali aku ingin memelukmu Ruri....”
Gadis itu setelah mendengarkan dia melihat pada Shion. Terpantul dalam mata birunya adalah seorang remaja dengan rambut putih dan jaket berwarna merah, bersandar pada dinding tepat di belakangnya, dengan wajah yang tidak bisa dia lihat karena Shion melihat ke arah lain. Tapi gadis itu merasakannya—kehadiran dari ‘eksistensi yang ia kenal’.
-- Leader....?
-------Itu yang dia pikirkan. Shion tidak tahu. Itu sesuatu yang hanya gadis itu sendiri di dunia ini tahu. Dan dia mengatakannya—
“Leader...!”
Kali ini bukan memikirkannya tapi benar-benar mengatakannya.
Mengatakannya dan merasa terkejut dengan kata-katanya sendiri. Bahkan jika dia telah mengenali suara remaja itu sejak beberapa saat yang lalu, dia membuang pikiran tersebut dan mengabaikannya seakan itu adalah hal yang terlalu melegakan jika sampai terjadi, sehingga dia tidak bisa mempercayainya. Tapi kali ini, ia juga telah melihatnya.
Meskipun ada banyak perasaan memenuhi hatinya, apa yang paling ia rasakan adalah kegembiraan bahwa ia memerah karena orang yang dia panggil leader ada di sana.
Dia tidak punya cara untuk menyembunyikan kegembiraan di dalam dadanya, dan banyak perasaan kompleks mulai meluap-luap.....
“Lea, leader! Kau ke sini—HIGII---!?”
Perempuan itu bergegas maju, tapi wajahnya membentur sisi kubus dan hidungnya mulai berdarah sementara ia membuat suara ratapan aneh.
“Hah, apa yang kau lakukan?”
..........------------Dan, mata mereka bertemu...-----
Itu hanya sesaat—sebenarnya, itu seharusnya hanya untuk sesaat, tapi bagi mereka itu adalah saat-saat yang panjang seakan mereka berdua dipaksa memacu otaknya hingga overheat untuk memastikan keberadaan di depannya.
“Lea... der...?”
Koreksi—bukan ‘mereka’, tapi hanya Shion yang memacu otaknya terlalu keras. Karena apa yang tercermin dari mata emasnya itu adalah—
“Leader, ini aku! Konokoneko Ruri, lho!”
—Adalah adik perempuannya.
-- Part 5 --
-- Tidak mungkin tidak mungkin tidak mungkin.
Jelas itu mustahil.
Karena adik perempuan Shion, Konokoneko Ruri—yang terjadi 200 tahun yang lalu. Shion menyaksikannya dengan matanya sendiri, tidak mungkin dia salah.
-- Jadi untuk alasan itu kau memintaku kan, XeeX!!
Sang Creator, XeeX—menjadi bidak dalam permainan yang dia(XeeX) lihat di telapak tangannya—Shion akhirnya menyadari hal ini.
Tapi berpikir lebih jauh lagi, semuanya seharusnya menjadi jelas. Dan dia mengatakannya.
“Aku bukan leader yang kau kenal. Dan juga kau tidak sama dengan Konokoneko Ruri yang aku kenal.”
“Kenapa?”
Memikirkan itu menyakiti jauh di dalam dada—hati, milik Shion. Tapi dia tetap harus memberitahunya.
“Itu karena adik perempuanku, dengan kata lain karena Konokoneko Ruri yang kukenal, dia sudah—tidak ada lagi.... itu sudah sangat lama. Jadi bisakah...”
“Tidak bisa mengerti. Tapi aku ada, di sini, leade—”
“Jadi bisakah kau TOLONG DIAMLAH!!”
Dengan kalimat yang seketika berubah dari memohon menjadi membentak, Shion memukul kubus dengan tangannya. Jika itu dinding biasa tulangnya pasti sudah hancur, atau setidaknya akan mengeluarkan darah.
Kemudian Shion menundukkan kepalanya—tidak, lebih tepatnya menyandarkan kepalanya.
....................------
“Dulu leader dan aku juga sering bersandar bersama, meskipun yang kami gunakan adalah punggung, sih... bukan kepala seperti ini.”
Ruri juga melakukannya sama seperti Shion. Jika dinding itu tidak ada dahi mereka pasti sudah saling menyentuh satu sama lain.
Tapi Shion, yang mengerti itu, sambil menyembunyikan ekspresinya berbalik.
-- Kalau itu aku juga, dulu sekali sudah sangat lama. Sekarang hanya masa lalu.
........ Kemudian, dia mengatakan.
“Gamenya masih belum selesai.”
Itu karena permainan ini perlu untuk diselesaikan, dan karena itu juga mereka harus melanjutkannya.
“Karena dengan tanganku sendiri aku tidak bisa menyelesaikannya, tapi jika...”
Shion memikirkannya.
-- Jika dia sama seperti Ruri—aku akan memohon padamu dewa. Janji yang kubuat bersama Ruri waktu itu—aku mohon ingatlah, dan selanjutnya biarkan kami menyelesaikannya.
“Jika, kita melakukannya bersama pasti akan berbeda.” Dia mengatakan ‘pasti’, bukan ‘mungkin’. Karena dia bisa merasakannya dan dia telah yakin di dalam hatinya.
Kalau begitu, benar.
“Berapa sisa waktunya?”
“Aku tidak terlalu yakin, tapi, kurang lebih itu ada di sekitar 15 menit.”
-----Sisa waktunya ditentukan. Kondisi kemenangannya adalah menyelesaikan slide puzzle 12x12 kotak dalam waktu kurang dari 15 menit, melewati waktu itu akan dianggap sebagai kekalahan.
Jika itu jelas maka—
-- Ayo mulai Game seperti ini.
Shion tersenyum pahit. Karena apa yang harus mereka berdua capai adalah hal yang ada di luar batas standar(akal sehat).
Tapi bagi mereka—sebagai kakak beradik—sebagai leader dan Konokoneko Ruri, akal sehat itu sendiri adalah----itu benar....
-----Sampai akhir, adalah sesuatu untuk dirusak!
“12.... tidak, 7 menit.”
-- Jika aku bersama leader aku pasti bisa menyelesaikannya dalam 7 menit. Jadi—
“Ayo selesaikan Game ini dalam 7 menit!”
.... Mengangguk, mereka mengumumkan proklamasi besar mereka.
“Kalau begitu, Ruri—”
-- Tepat sekali.
--- “ “Ayo tentukan bagaimana kita melihat endingnya!” ” ---
Dan Game seperti itu dimulai, mematuhi aturan permainan yang telah ditetapkan.
-- Part 6 –
Puzzle kombinasi yang menantang pemain untuk membuat konfigurasi akhir dengan menggeser fragment(potongan) di sepanjang papan dua dimensi—dengan nama lain slide puzzle.
Dalam semua Game, ada sebuah taktik yang dibangun. Itu adalah sesuatu yang ada di atas spesifikasi dan aturan; dan merupakan langkah terbaik yang paling mungkin dimaksimalkan. Dalam sebuah Game, itu adalah strategi, dan, ‘harga diri’ seorang Gamer.
Dalam dunia di mana segala hal ditentukan oleh aturan dan kondisi kemenangan—tingkat kesulitan sebuah Game, aturan permainan dan kemampuan bermain player harus telah dipertimbangkan sejak awal.
..... Tapi bagaimana jika—menantang Game yang tidak bisa dimenangkan, kamu secara terbuka melawannya dan justru tanpa ragu mempercayai kemenanganmu hanya karena satu orang baru saja ditambahkan. Apa itu salah?
Ya itu salah....
Semua orang akan tanpa ragu—secara alami mengatakan kalau itu salah.
..............-------
“Kanan kanan, atas kiri atas kiri.”
Kemampuan analisis, perhitungan matematis dan movement skill. Memaksimalkan semua faktor penentu yang dibutuhkan ke dalam sebuah Game, seorang Zombist dan manusia belaka mengubah ‘mustahil’ menjadi ‘mungkin’—seperti keinginan mereka. Di mata orang lain itu memang ‘salah’ tapi—itulah yang Shion dan Ruri, mereka berdua anggap itu sebagai ‘kebenaran’.
Dan untuk orang-orang yang tanpa ragu menyerah pada kemustahilan itu, aku punya kata-kata yang bagus untukmu---
...... Jangan samakan cara hidup kalian denganku, noob sialan.
Tepat sekali, adalah alami jika kebanyakan orang akan ‘tidak bisa melakukan’. Tapi tolong untuk jangan menyamakan orang-orang seperti mereka dengan ‘mereka berdua’. Karena mereka berdua—karena Shion dan juga Konokoneko Ruri telah benar-benar menantang akal sehat—dan menjatuhkannya.
............-------
7 menit 15 detik------permainan berakhir.
Dengan mata emas dan birunya mereka menyaksikan saat dimensi dihancurkan. Alam semesta mengalami keretakan di berbagai sisi, lalu kubus yang menyegel si gadis manusia, Konokoneko Ruri juga mulai mengalami distorsi—dan menghilang.
---------------.............
“Ini, dimana...?”
Fraclayfe, dunia papan permainan dan kata. Mereka kembali ke dunia sebelumnya—
“Tempat sebelum aku pergi ke dimensi tadi. XeeX pasti memindahkan kita ke sini sebelum dimensi itu benar-benar rusak.”
Di dalam spekulasi Shion ada tingkat kemungkinan yang tinggi. Tapi pada pernyataan itu Ruri memiringkan kepalanya, dan bertanya.
“XeeX, apa itu.... sebuah nama?”
“Hah?”
.............
.................... Untuk sesaat, tidak ada yang bicara. Shion tiba-tiba memiliki keinginan berteriak di dalam dirinya.
Nama dari sang Creator, XeeX—tidak mengetahuinya adalah hal yang mustahil kecuali jika seseorang selama hidupnya dikarantina dari dunia luar, atau jika—Shion memikirkannya kembali.
“Aku memang sudah membuang dugaan ini tapi.... Ruri, apa sebenarnya kamu bukan berasal dari dunia permainan dan susunan kata ini?---Atau setidaknya pernah tidak kamu mendengar tentang Betting Game dan Fraclayfe Word?”
*Menggeleng~~
“Begitu.”
“..... Kamu tidak terlihat.... kaget, huh.”
“Yah....” Karena---- “Aku mengenal seseorang yang juga berasal dari tempat selain Fraclayfe. Dia menyebut itu dunia tekonologi dan sains.”
Dan jika mereka berdua memang berasal dari tempat yang sama Ruri pasti akan mengetahui banyak hal dengan bertemu dia. Atau barangkali, kemungkinan kecilnya mereka akan mampu mengungkap kebenaran di balik keberadaan mereka di dunia Fraclayfe.
“Mungkin saja aku dan dia pernah, bertemu? Dunia tekonologi dan sains, aku mungkin mengenalnya----Eh....”
-----------Seketika, saat ini, yang menghentikan kata-kata Ruri adalah pemandangan di mana warna langit telah berubah hanya dengan hitungan detik.
Langit kehitaman yang membuat siapapun berpikir ini adalah malam hari menghilang seperti waktu baru saja diputar.
Di dalam waktu yang diputar itu—di dalam Fraclayfe, langit yang sepenuhnya berwarna biru tidak pernah ada, atau hanya tidak ada yang mengingatnya.
Sedangkan yang sedang Konokoneko Ruri saksikan di balik kumpulan awan putih itu adalah alam semesta yang sama sekali berbeda, karena alam semesta yang dilihatnya sekarang menyimpan tujuh warna langit Fraclayfe.
“Kudengar darinya di duniamu langit berwarna biru, huh.”
“Iya tapi... apa yang terjadi? Bukannya itu—”
“Gerhana matahari.”
“Huh? Kamu tahu apa itu gerhana?”
“Salah satu dari satu juta lebih pengetahuan yang orang itu bawa dari dunianya, seluruhnya ada di sini.”
Sambil mengatakan itu, Shion menunjukkan papan perangkat metalik dari balik jaketnya.
“Device itu tidak salah lagi memang dari duniaku. Tapi kenapa ‘gerhana matahari’? Apa itu di sini sering terjadi?”
Pada Ruri yang bertanya sambil mengerutkan dahinya, Shion menjetikkan jari, berkata.
“Time limit. Tadi aku bilang masih ada 15 menit tapi, sebenarnya aku salah. Aku lega kita berhasil di saat-saat terakhir. Kerja bagus, Ruri.”
Memang, itu sudah sangat lama sejak Shion terakhir kali merasa sesenang ini karena bermain Game. Dan yang pasti, ya pasti itu ada alasannya, meskipun itu merupakan sesuatu yang tidak bisa dia jelaskan sekarang.
Dan berdasarkan apa yang Shion katakan, dengan kata lain ia telah memperkirakan akan adanya gerhana matahari dan bahkan mampu membaca sampai menit terdekat.
“Aku yakin ada banyak hal yang ingin kau tanyakan tentang Fraclayfe atau yang lain, tapi.... untuk sekarang—”
Shion mengatakan, dengan serius.
“Ada hal yang harus kuakhiri.”
Suasana di sekitar mereka, seketika—koreksi, intonasi yang Shion gunakan ketika berbicara berubah—sekali lagi koreksi, bukan suaranya yang berubah, melainkan aura yang dia berikan dari kata-katanyalah yang memberi kesan seolah tekanannya berubah, seolah ada orang lain yang bicara. Tapi...
Tapi Ruri, meski tahu itu dia mencoba bersikeras akan satu hal.
“Ya, itu... benar. Memang ada banyak sekali yang ingin aku tanyakan, tapi...! Tapi yang paling ingin aku tahu bukan soal dunia ini atau semacam itu. Itu adalah.... kamu tahu, namamu, aku belum mendengar namamu.”
Sambil menyampaikan itu Ruri juga—di dalam hatinya berharap.
-- Jika dia sama seperti leader.... aku mohon........ ‘Shion’.
“Ah, itu—benar juga, aku belum memberitahumu. Namaku Shion.”
Mata Ruri terbuka lebar. Dadanya mulai sedikit panas dan di wajahnya agak mendapati warna merah.
------Seperti ‘dia’ yang Ruri panggil leader, nama remaja itu sebagaimana ia memperkenalkan dirinya adalah Shion.
Di saat pikiran Ruri terus bergerak dan membuatnya seperti afk, Shion mulai berjalan sebelum kemudian berhenti setelah beberapa langkah, lalu memanggil Ruri.
“Kenapa, kau tidak mau ikut? Kalau masih ada pertanyaan lain aku bisa menjawabmu sambil berjalan.”
----“A, ah, iya...”
Jauh di dalam hatinya, sambil tersenyum di belakang Shion Konokoneko Ruri berpikir.
-- Banyak, ada—sangat banyak kau tahu.... ? Leader. Yang ingin Ruri tahu tentangmu ada sangat banyak.
-- Part 7 –
- Betting Game berskala besar yang dimulai delapan hari dari sekarang.
Untuk mengikuti Betting Game, kau perlu bergabung dalam Alliance atau membuat Alliance-mu sendiri. Setiap individu di Fraclayfe yang Shion tahu telah bergabung ke dalam Alliance, tapi mereka tidak bergabung untuk sekedar akses mengikuti Betting Game.
Melainkan, itu karena esensi yang lahir sebagai simbol dari Alliance—atau disebut juga ‘Crest’, beberapa di antara mereka menyimpan kekuatan besar yang bahkan unique skill tidak dapat mengimbanginya. Dan dalam sebuah kasus, itu akan mengubah alur permainan dalam sekejap. Hanya dengan bergabung ke dalam Alliance kau bisa mendapatkan satu.
Dengan alasan ini, jika kau melihat seseorang yang tidak bergabung dengan Alliance manapun maka mereka mungkin memang bukan berasal dari Fraclayfe.
“Lalu sebagai player keenam kau perlu Alliance untuk berpartisipasi----atau kalau kau mau kamu bisa bergabung dengan Alliance-ku.”
“Aku boleh, bergabung?”
“Hanya ada dua member selain aku dan Crest kami juga tidak menakjubkan. Itu benar-benar sampah dibanding Alliance lain sampai-sampai jika kau membuat peringkat setiap Alliance yang ada punyaku mungkin akan jatuh di sekitar satu juta dari satu juta. Bagaimana menurutku, keren kan?”
“Tidak.” Berhenti melangkahkan kakinya, Ruri membuat jawaban langsung. Namun ia segera malanjutkan kalimatnya. “Tapi pasti akan menyenangkan. Aku, bergabung.”
Menghadap Ruri yang berhenti, Shion juga berhenti sebelum kemudian mengulurkan tangannya.
“Kau diterima. Ulurkan tanganmu.”
Dan lalu—
Di antara tangan mereka yang saling terulur, poligon dan cahaya kebiruan mulai menyinari sekitar.
“Sendirian di dunia yang tidak aku ketahui.”
Itu yang Ruri rasakan. Jika dia tidak beruntung gadis manusia lemah yang tidak tahu apapun itu akan mengikuti hukum alam sebelum kemudian mati sebagai kemungkinan terburuknya.
Bagaimapapun juga, setelah memasuki dunia ini dia dibuang, disegel, dan dikucilkan ke dimensi yang sama sekali berbeda. Shion memang menyelamatkannya, tapi dia tidak bisa bilang kalau Konokoneko Ruri beruntung telah memasuki dunia ini.
“Um, kamu tahu? Dulu aku juga seperti ini sebelum leader menyelamatkanku. Jika tidak ada leader aku pasti masih menjalani kehidupan yang kosong sampai sekarang. Tapi saat ini leader sedang tidak ada di sisiku, jadi kupikir, aku akan menjalani kehidupan hampa lagi seperti dulu.”
-- Jadi karena itu, saat kami pertama bertemu dia....
Sama seperti Ruri, bagi Shion, roda waktu yang menyenangkan sudah menghilang sejak adik perempuannya pergi. Hanya dengan satu janji yang ia buat bersamanya—jika dia tidak pernah membuat janji itu Shion pasti telah jatuh ke dalam kehidupan kosong seperti yang Ruri katakan.
Tiba-tiba, Ruri menyatakan perasaannya.
“Jadi bolehkah... apa mungkin, jika kamu mengijinkannya aku ingin menjadi adik perempuanmu..... apa itu tidak, boleh?”
Shion dan Konokoneko Ruri.
Apa yang mereka berdua inginkan, lihat, dan rasakan adalah sesuatu yang serupa. Mereka ada dalam keadaan yang saling membutuhkan satu sama lain.
Jika itu Shion maka adalah adik perempuannya, jika itu Ruri maka adalah orang yang ia panggil leader.
Shion dan leader, Ruri dan juga adik perempuan Shion—mungkin benar mereka bukanlah orang yang sama. Meski begitu, semua orang memiliki hak untuk mendapatkan suatu kebahagiaan, jadi apa salah untuk seorang individu lemah mengharapkan hal yang serupa?
Tidak, itu tidak salah.
“Aku menolak.”
-------..............................................
Itu tidak salah tapi—Shion menolaknya.
Dia tahu dan telah mempertimbangkannya tentang hal-hal seperti ini.
-------Gerhana matahari yang muncul tepat 8 hari sebelum Game yang diadakan oleh Creator dimulai. Untuk mengikuti Game itu seorang Zombist harus menyelesaikan Neverending Game 200 tahun miliknya atau dalam peraturan dia tidak diijinkan untuk keluar dari pulau.
Lalu jika, dengan memanfaatkan Gerhana matahari dia bisa melakukan sesuatu untuk memenuhi kondisi kemenangannya, mengikuti peraturan—Neverending Game tersebut baru akan berakhir setelah 7 hari sejak lawan tidak menggunakan skill terbaiknya—atau dengan kata lain itu akan berakhir tepat satu hari sebelum Game yang dibuat oleh Creator dimulai.
Dan kemudian sesuatu yang tidak terduga seperti kemunculan player keenam terjadi tepat di hari di mana Zombist itu harus menyelesaikan Neverending Game-nya, terlebih lagi, player keenam adalah eksistensi yang mirip dengan adik perempuan Shion—dengan rambut emas dan sepasang mata biru yang mencerminkan langit di dunia teknologi dan sains, seorang gadis manusia yang dipanggil Konokoneko Ruri.
-- Kalau begitu semuanya sudah jelas, ya kan? Aku sudah lelah kau tahu...
Dan Shion—membuat penolakan.
-- Aku menolak hidup dengan mengikuti takdir yang kau siapkan, sialan...---
Dan karena itulah dia bersikeras.
-- Konokoneko Ruri, adikku itu, tidak mungkin sama dengan orang ini. Bahkan jika kau(XeeX) memohon untuk menjadikannya adik perempuanku, tetap saja! Mana mungkin aku bisa menerimanya kan, sialan!!
-- Tapi setidaknya, jika aku diijinkan untuk memohon hal yang lain aku ingin—
“Ruri, aku mohon jadilah Heroine-ku.”
-- Part 8 –
Pertama kali bertemu dengan adik perempuanku, aku pernah berpikir dunia ini adalah keberadaan yang sangat bodoh—tidak pasti dan tidak mungkin untuk dapat diandalkan.
Dan lalu, sampai kapanpun ayo terus mempercayainya—cara berpikir seperti itu.
.........-------
Mengambil skill card kosong yang tercipta dari ribuan cahaya bintang, Shion memandang rendah Zenth D’Arc Moongarden yang bahkan di antara para Vhampires adalah salah satu yang dijuluki sebagai Nosferatu(penguasa malam).
Namun di hadapan Shion saat ini, apa yang dia lihat dari Vhampires itu hanyalah seorang bocah laki-laki 12 tahun, bersandar di depan batu hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya.
Seorang ras Vhampires—jika saat ini adalah kondisi terbaiknya maka dia tidak perlu kerepotan membunuh Zombist di depannya hanya dengan tiga detik—tapi di bawah matahari perak yang berwarna seperti bongkahan es, mengangkat satu tangan bahkan sudah menjadi batasnya.
“Haha... jadi begitu ya.... legenda itu, itu kamu juga yang membuatnya.”
Meskipun dia mencoba menertawakan keadaannya sendiri, Zenth mengernyit pahit di dalam.
“Membuat labirin hanya untuk membodohi seorang Vhampires dan belum lagi aku harus memancingmu masuk ke dalamnya, hah.... aku percaya tidak banyak yang lebih merepotkan dari ini sepanjang hidupku.”
“Sungguh, sedangkan aku seharusnya lebih percaya pada ramalan kartuku daripada memasuki labirin buatanmu, huh. Siapa sangka artefak yang menjelaskan tentang gerhana itu sebenarnya palsu. Yah kau sudah benar-benar menipuku, Zombist. Aku harus minta maaf pada Dewi Selene karena rasa raguku, kan...”
Di dalam artefak yang Zenth dulunya temukan, Shion memasukkan banyak sekali fakta tentang gerhana matahari sehingga tidak mempertimbangkan kebenarannya adalah keputusan yang sulit—bukan, dengan keahlian Shion untuk melihat dan memanipulasi cara berpikir musuh tidak mempercayai artefak yang dia sendiri ciptakan akan menjadi hampir mustahil dilakukan.
Dengan pemilihan kata-kata yang tepat, dia hanya harus menanamkan cara berpikir seperti ini—‘lalu saat gerhana itu terjadi, seorang ras Vhampires akan membuka kekuatan sejatinya dengan tertidur di bawah cahaya bulan’.
Dengan kata lain Zenth harus menghilangkan kesadarannya tepat ketika gerhana matahari dan perlu tertidur di bawah cahaya bulan—yang membuat Zenth D’Arc Moongarden kehilangan kekuatannya begitu gerhana matahari berakhir.
Sejak 200 tahun lalu, Shion memikirkan segala cara yang mungkin dia gunakan, tapi, itu hanya satu tahun sejak ia bertemu dengan sang Creator dan seorang remaja laki-laki dari dunia teknologi dan sains—ia pada akhirnya, dengan tangannya sendiri membawa stalemate(imbang) 200 tahun ini pada checkmate(akhir).
Untuk itu dia memainkan semua kartu yang dapat digunakan—menipu Zenth, membuat legenda yang justru membawa Zenth pada kehancuran dirinya sendiri, dan lalu mengambil skill terbaiknya. Itulah cara Shion mengadopsi kemenangan.
Dengan senyuman pahit, Shion membuka mulutnya—ia menetapkan sebuah penegasan.
“Kalah adalah standar bagi yang lemah.”
Tepat sekali. Itu karena yang kuat selalu menggunakan kekuatan mereka untuk mengintimidasi, membunuh, mengancam dan menghancurkan yang lemah, itulah kenapa yang lemah selalu kalah.
“Tapi meski benar begitu sekalipun—tidak.... bukan, justru karena itulah kebenarannya, karena yang lemah tidak terikat oleh ilusi aneh yang dikenal sebagai rasa percaya dirilah—yang membuat mereka kuat.”
Dan bagi yang lemah untuk mengerti fakta di mana mereka sudah kalah hanya dengan mempertimbangkan statistik awal permainan, menang melawan yang kuat memang tidak lebih dari omong kosong anak kecil namun, justru itulah kenapa, mereka, sebagai yang lemah adalah pihak yang paling memiliki kualifikasi melihat dan menggunakan segalanya selain ‘kekuatan’ mereka.
Dengan senjata terkuat yang lemah—dengan kata lain dengan ‘kelemahan’ mereka mengasah pengetahuan mereka—kebijaksanaan mereka.
“Dan lalu—sebagai keberadaan yang terus-menerus diinjak kami akan mengambil kemenangan melawan yang kuat----------Aku akan membuktikannya padamu.”
Menunjukkan kartu sederhana di tangannya ke arah Zenth—dia bilang bahwa dia akan membuktikannya. Lalu ayo buktikan.
“Kepada seluruh bintang(jiwa) di dalam 13 konstilasi aku bertanya pada kalian semua---apa tidak mungkin bagi kita(ras tanpa nama)?”
“<<—Dzeus—>> [salah]”
Melalui perangkat metalik Zvaigner [penghubung bintang] di telinga Shion—jawaban dari seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang didengarkan.
“Aku lelah terus-menerus stalemate yang tidak jelas kapan akan berakhir ini. Jika itu tidak diinginkan(kalah) maka kita akan sesuaikan(menang). Itulah kita(ras tanpa nama).”
“<<—Zweisz—>> [benar]”
Dan kemudian, seorang remaja yang hanya seorang Zombist, dia menegaskan.
“Hidup dengan kekalahan masa lalu, pergi dengan kegagalan—kita kembali dengan kemenangan.”
“<<—Cardial—>> [Activate]”
- Konokoneko Ruri.
Dia menilai Shion adalah leader pada kali permatanya dia melihat Shion. Karena dia telah benar-benar merasa putus asa, hancur, dan berharap—melihat dari penampilan dan cara berpikir—dari segala hal Shion memang terlihat seperti leader yang membuat Ruri tidak bisa tidak berharap pada fakta ini.
Tapi justru karena itulah—karena Ruri terlalu mempercayai hal itulah yang membuat dirinya mendapatkan penolakan. Tapi sekarang, dia bisa menegaskan.
Ini dia. Arti sebenarnya—dari apa yang dilihatnya pertama kali dia bertemu Shion. Jika itu sekarang, maka Ruri bisa menjawab dengan yakin dan bangga. Inilah harga diri—keyakinan. Itulah apa yang dia(Konokoneko Ruri) yang menjadi lemah sejak leader tidak ada di sisinya tidak bisa miliki.
Zenth D’Arc Moongarden berkata lemah.
“Orang di belakangmu itu... dia terlihat sama seperti adikmu, kan.......... Ruri—kalau tidak salah.”
Itu benar, tapi... itu bukanlah dia.
“.......-----------Konokoneko Ruri-----remaja wanita yang kau buat mati di tanganmu. Mendengar nama Ruri keluar dari mulutmu entah kenapa aku ingin membakar tenggorokanmu.”
“---Hahh.... sebegitu bencinya kau padaku, Zombist. Ya aku paham, perasaanmu, aku masih mengingatnya. Sebagai individu manusia tanpa skill kuat apapun dia jauh melampaui definisi kata menakjubkan bahkan di antara ras lain. Adikmu punya kemampuan mutlak dalam perhitungan matematis, tapi, tetap saja.... dia hanya ‘alat’.”
“Diam kau Vhampires.”
Shion masih bisa menahan amarahnya jika itu sekarang. Jika itu 200 tahun yang lalu, tanpa basa-basi dia pasti sudah memukul wajah Zenth tidak peduli sekuat apapun ras Vhampires itu, tapi sekarang, dia mengernyit pahit di dalam.
Mengabaikan hawa kebencian yang keluar langsung dari mata Shion, Zenth melanjutkan.
“Meski begitu, sebagai kakak laki-lakinya...... bukan—lebih tepatnya, kalian masih belum menjadi saudara karena itu pertama kali kalian bertemu. Di saat itulah kau yang hanya seorang Zombist, dengan keegoisanmu menolak gadis muda itu untuk hanya menjadi sekedar ‘alat’....... Sebuah alat yang menolak untuk terus menjadi alat—tidakkah kau pikir itu terlalu angkuh? Tapi dia sendiri menolak untuk memikirkan dirinya sebagai manusia, jadi.... Itulah kenapa, kau, Shion sebagai kakaknya membuat batasan antara manusia dan tidak. Itulah Alliance yang kalian buat 200 tahun yang lalu. Jujur saja Zombist, itu cuma sampah.”
- Membuat batasan antara manusia dan tidak.
Ruri, sang adik tidak salah lagi memang manusia, meski begitu dia menolak untuk memanggil dirinya sendiri sebagai manusia. Dia bilang bahwa dia adalah alat dan tidak lebih dari itu, tapi Shion menolaknya untuk sekedar hanya menjadi alat. Dia katakan, dengan memohon—[akan kuberikan sebuah tempat untukmu, jadi]—
Dia akan memberikan tempat untuk sang alat tidak perlu terus menjadi alat ataupun manusia. Dan kemudian dia—setelah itu juga menambahkan ‘permintaannya’—[tolong jadilah... adik perempuanku]—
-----...... Itu yang Shion minta—untuk menjadi bagian dari keluarganya. Sesuai janji itu, Shion membuatkan tempat yang ia janjikan.
- Humanless.
Alliance kecil dengan bidak catur sebagai Crest mereka.
Menilai dari seberapa besar ‘nilai’ sebuah Alliance itu memang sampah—tapi bahkan di antara para sampah, bagi Shion itu merupakan permata tak tergantikan.
“Kau tahu Vhampires, jika di matamu Alliance kecil kami memang tidak bernilai maka justru kau sendirilah yang perlu dikasihani.”
“Oh? Jadi kamu akan mengkasihaniku setelah itu membunuhku? Kukira individu sepertimu akan lebih kejam dan realistic, Zombist.”
“Hah...! Menurutmu aku realistic? Cobalahh untuk pikirkan itu lagi... Aku bahkan dari awal bukan realist sama sekali.”
Di tangannya, skill card kosong mulai mengeluarkan cahaya dan kepingan poligon 13 warna. Seribu-empat-ratus-lima-puluh-enam bintang—masing-masing kekuatan mereka—berkumpul dalam sebuah kartu dua sisi sederhana.
—Shion mengumumkan.
“Checkmate...---”
-- Permainan selesai.
“Aku mengambil skill terkuatmu. Alasanku tidak membunuhmu—kau pasti paham kan? Janji yang aku buat dengan Ruri 200 tahun yang lalu—hanya ada kau, Zenth D’Arc Moongarden—sebagai satunya-satunya orang yang menyaksikannya, maka, mulai sekarang juga kau harus menyaksikannya sampai akhir.”
Untuk janji itu sendiri, Shion kali ini menegaskan.
Benar.
“Humanless Alliance akan menyusun ulang dunia ini—itulah janji yang kami buat.”
“Hahah... itu tidak... lucu, hei... Jika kau tidak membunuhku sekarang Zombist, aku akan membunuhmu setelah ini, malam ini, besok, atau kapanpun, membunuh seorang Zombist belaka hanya hal mudah bagiku.”
Dalam 200 tahun terakhir, Shion masih hidup karena ia memutar otaknya setiap saat untuk menghindari kekalahan, itulah yang menyebabkan stalemate pada Game ini.
Tapi setelah ini, karena ia memutuskan untuk berpartisipasi dalam Game yang dibuat oleh Creator maka Shion tidak punya pilihan selain untuk menunjukkan dirinya. Jika begitu maka Zenth bisa, dengan mudah, langsung menemukannya dan menghancurkannya..... Tetapi sebelum itu—
“Yah bagaimanapun juga, hal seperti itu tidak akan terjadi.” Shion menjaminnya.
“Karena jika aku mati, maka skill terkuatmu yang sekarang ada dalam kartu ini juga akan menghilang denganku.”
“Dengan kata lain aku harus memohon agar kau mengembalikan skill yang sejak awal memang milikku? Jangan bercanda denganku Zombist. Lebih baik aku membunuhmu.... ”
Pada Zenth yang berbicara sambil menahan sakit karena matahari, Shion mengatakan.
“3 bulan. Mengambil skill individu lain dan menyimpannya itu bukan keahlianku. Aku cuma meminjam dan memakai skill ini untuk tujuanku------3 bulan, itu batas waktu sampai skillmu dikembalikan dengan sendirinya, jadi kau tidak bisa membunuhku sebelum hitung mundurnya selesai.”
“Ya, dan setelah 3 bulan itu aku akan pergi menghancurkanmu, menurutmu itu oke?”
“Hahah, bebas.”
Karena---
“Hanya dalam 3 bulan-----” Dengan senyuman liar, remaja bermata emas di bawah rambut putihnya mengumumkan. “Akan kususun ulang dunia ini.”
.
.
Prolog end!

wkwk udah ganti aja covernya
ReplyDeleteSeketika covernya berubah
ReplyDeletelanjutannya ada?
ReplyDeletelanjutanya ada (2)?
ReplyDelete