Rebuild World Chapter 2 Bahasa Indonesia
Dark Mode
Chapter 2 - Alpha’s support
Setelah Akira menjauh dari kawanan monster, Akira menghela nafas lega. Lalu Alpha tertawa dengan bangga saat dia mengatakan.
“Bagaimana tadi? Aku memberi support yang bagus, kan?”
“Y-Ya, Aku terselamatkan karena kau. Makasih ya.”
Saat dia sedang menenangkan dirinya, Akira memikirkan semua hal yang baru saja terjadi. Sensasi yang tersisa dan aliran adrenalin dari serangan monster, paru-parunya yang menjerit saat dia kehabisan napas karena dia berlarian seperti orang gila; kewaspadaannya terhadap gadis yang tidak dikenal, dan perasaan syukur setelah dia diselamatkan olehnya. Semua perasaan dan sensasi ini bersatu menjadi satu ketika dia membuat ekspresi campuran.
Sedangkan bagi Alpha, dia hanya berdiri di sana, menatapnya dan mencoba membaca lebih dalam ke dalam hatinya sambil mengeluarkan senyum indah yang membuat Akira mengendurkan kewaspadaannya.
“Sama-sama. Sekarang kau baru saja menyadari betapa hebatnya aku, Ada yang ingin aku tanyakan kepadamu. Apakah kau baik-baik saja?”
“Ya”
Alpha terus menatap mata Akira dan memberi anggukan seolah-olah dia akan berbicara dengan serius.
“Aku ingin kau menjelajahi reruntuhan tertentu. Tempatnya bukan di sini, namun ada di beberapa reruntuhan lainnya, dan itu adalah reruntuhan yang sangat berbahaya. Sejujurnya, Mustahil bagimu saat ini untuk menjelajahi tempat itu. Lupakan menjelajahi tempat itu, Mustahil bagimu untuk pergi ke sana, kau pasti akan mati di tengah jalan bahkan dengan support ku yang luar biasa. Itu sebabnya, sebelum pergi ke sana, Aku ingin kau mempersiapkan peralatan dan keterampilan yang cukup untuk dapat menjelajahi reruntuhan itu, Dan itu akan menjadi tujuan utama kita untuk saat ini …”
Merasa bahwa itu akan menjadi pembicaraan yang panjang, Akira dengan ragu membuka mulutnya dan berkata.
“Uhmm, bolehkah aku mengatakan sesuatu?”
“Apa itu? Tanyakan saja jika ada bagian yang tak kau mengerti.”
“Bukan itu maksudku. Jadi uhh, Aku mengerti bahwa ini adalah topik yang penting, tapi bisakah kita membicarakannya nanti? Sejujurnya, Jika memungkinkan aku ingin berbicara tentang bagaimana aku bisa kembali dengan selamat dari sini terlebih dahulu”
Alpha berhenti berbicara dan mengeluarkan senyum penuh arti kepada Akira saat dia terus menatapnya. Keheningan membuat Akira menciut sedikit dan ekspresinya menjadi tegang.
[…Oh sial, apa aku membuatnya marah? Mungkin aku seharusnya tidak memotong pembicaraannya]
Weapon dogs masih berkeliaran di sekitar gedung, jadi dia tidak bisa tetap berada di sana selamanya. Dia harus melakukan sesuatu untuk keluar dari situasi yang sulit ini, jika tidak, cepat atau lambat dia pasti akan terbunuh. Inilah alasan kenapa dia memotong pembicaraan Alpha, tapi kemudian, dia menyadari bahwa dia telah membuat Alpha marah, dan itu sama dengan memotong garis hidupnya sendiri.
Kepanikan dan kegugupan Akira mulai terlihat dari ekspresinya. Melihat hal itu, Alpha hanya terkikik tanpa menunjukkan rasa khawatir.
“Aku mengerti. Aku juga ingin bertanya padamu mengenai banyak hal setelah kita berada dalam situasi yang lebih baik. Jadi ayo kita keluar dari tempat ini dan kembali ke kota Kugamayama terlebih dahulu, lalu kita bisa melanjutkan pembicaraan kita setelah ini, ok?”
“Ya, aku mengerti”
Akira menghela nafas lega karena kesempatan bertahan hidupnya baru saja meningkat saat dia tahu bahwa dia tidak membuatnya marah.
Tetapi tiba-tiba, Alpha memberi perintah lain padanya sambil tersenyum seolah-olah dia dengan sengaja ingin menghapus rasa lega darinya.
“Kalau begitu turunlah sekarang juga”
Akira langsung tertegun dan tersedak. Lalu setelah dia pulih kembali, dia berdiri dengan pandangan tercengang.
Alpha tampaknya tidak terganggu oleh reaksi Akira. Dia dengan entengnya pergi begitu saja sambil melambai pada Akira seolah-olah dia mencoba untuk memimpin Akira yang hanya berdiri diam di sana.
“Apa yang salah? Ayo pergi”
Yang mana yang benar, Akira menyangkalnya panik.
“Tidak, bukankah, aku baru saja keluar dari sana, kan!? Jadi kenapa kita kembali ke tempat itu lagi!? Masih ada banyak monster yang berkeliaran di bawah, kau tahu?!”
“Aku tidak keberatan menjelaskannya kepadamu tetapi … Aku akan melakukannya selagi kita bergerak perlahan. Tapi ya, jika kau tidak bisa mempercayai Support yang kuberikan, maka aku tidak bisa berbuat apa pun. Aku tidak akan memaksamu atau semacamnya."
Setelah mengatakan itu, Alpha terus berjalan lebih dalam ke dalam gedung, meninggalkan Akira di belakangnya.
Rasa takut ketika kembali ke zona kematian, membuat Akira tidak bisa menggerakan kakinya. Tetapi setelah melihat Alpha menghilang masuk ke dalam gedung, dia hanya mengertakkan gigi dan mengikutinya.
Akira tidak memiliki kepercayaan diri untuk dapat kembali ke kota dengan selamat sendirian, belum lagi itu berkat support Alpha yang membuat dia sanggup bertahan dari serangan monster sebelumnya. Itu sebabnya, dia mengerti betul bahwa meskipun itu tampak seperti ide gila baginya, dia memiliki peluang bertahan hidup lebih baik jika dia mengikuti perintahnya. Jadi, dia memutuskan untuk bertaruh padanya dan bergegas menuju ke gadis yang tak dikenal itu.
Begitu dia memasuki gedung lagi, dia melihat Alpha berdiri di dekat pintu masuk sedang menunggunya sambil tersenyum. Menatap kepadanya, Akira merasakan campuran rasa malu dan sedikit rasa kekalahan yang aneh. Kemudian Alpha mulai berjalan menuruni tangga bersama Akira yang mengikuti di belakangnya.
Dia berjalan menuruni tangga dengan lambat dibandingkan ketika dia menaiki tangga secepat yang dia bisa beberapa saat yang lalu. Mengikuti perintah Alpha, dia berhenti, menyembunyikan diri, dan mulai berjalan lagi beberapa kali selama menuruni tangga.
“…Jadi, kenapa kita kembali ke bawah? Bukankah berbahaya di bawah sana?”
“Sangat berbahaya di bawah sana, kau tahu itu”
Akira terkejut dan kaget dengan jawaban cepat Alpha. Tapi kemudian dia buru-buru bertanya pada Alpha lagi.
“Tunggu sebentar !! Bukankah itu berbahaya?”
“Ada banyak monster yang berkeliaran di sana, kau tahu? Jadi tempat itu jauh dari kata aman. Apakah kau datang ke reruntuhan ini tanpa menyadarinya? Apakah kau pikir itu murni karena nasib buruk saat kau diserang di sana?”
“Tentu saja aku tahu itu … Tetapi bukan itu yang aku tanyakan. Jelaskan saja padaku, kau memang mengatakan bahwa kau akan melakukan itu saat kita bergerak, bukan?”
“Agar kau dapat kembali dengan selamat ke kota Kugamayama dari reruntuhan kota Kuzusuhara ini, kau harus keluar dari gedung ini. Tapi aku tidak berpikir kau memiliki kemampuan untuk melompat turun dari atap dan mendarat dengan selamat, itu sebabnya kita menaiki tangga -“
Akira bahkan tidak menunggu Alpha yang mencoba menjelaskan semuanya secara rinci kepada Akira. Dia menyela penjelasannya dengan nada yang tinggi sambil menatap Alpha yang menunjukkan ketidakpercayaan dan ketidakpuasannya.
“Baiklah, baiklah. Tetapi katakan padaku satu hal, jika aku menuruti semua yang kau katakan, maka aku akan dapat kembali dengan selamat, benar?”
Alpha menjawabnya dengan tatapan yang serius.
“Setidaknya, kupikir kau akan memiliki kesempatan bertahan hidup yang lebih baik dibandingkan jika kau melakukannya sendiri. Aku sudah mengatakan ini sebelumnya, aku tidak akan memaksamu untuk memilih. Jika kau tidak mempercayai supportku, maka aku tidak akan memberikanmu support karena itu akan sia-sia saja.”
Kemudian Alpha terus menatap Akira saat dia sedang menunggu jawabannya. Tergantung pada jawabannya, hubungan mereka mungkin akan berakhir di sana.
Setelah beberapa saat, Akira menundukkan kepalanya dan menyalahkan diri sendiri sambil mengatakan.
“…Maaf, ini salahku. Aku akan mematuhimu, jadi tolong bantu aku”
Alpha kembali tersenyum seolah-olah dia mendapatkan kembali suasana hatinya.
“Oke, jadi sekali lagi, aku akan berada dalam perlindunganmu”
Meskipun dia merasa lega, dia masih merasa gelisah. dan Akira dengan hati-hati bertanya lagi.
“…Dan juga. Jika memungkinkan, bisakah kau menjelaskan kepadaku alasan perintahmu sebelumnya dengan cara yang mudah bagiku untuk dimengerti sehingga aku tak akan gelisah? Tidak apa-apa walaupun jika kau hanya menjelaskan kepadaku poin-poin utama yang penting.”
“Ada perbedaan individu di dalam pola perilaku pada masing-masing weapon dog. Apakah mereka mengejar target sampai akhir atau mereka menetap di satu area. Apakah mereka terus mencari atau kembali ke markas mereka saat mereka kehilangan targetnya. Setelah mengamati perbedaan masing-masing individu, Aku memperkirakan hal itu saat ini, kesempatan kau akan bertemu monster apa pun jika kau kembali seharusnya sangat rendah. Bubuk mesiu yang mereka gunakan untuk senjata mereka diproduksi dari organ tertentu di dalamnya. Dan organ ini hanya dapat menyimpan bubuk mesiu dalam jumlah yang terbatas. Jadi, begitu mereka menggunakan semua bubuk hitam yang ada, perlu beberapa saat bagi mereka untuk mengisinya ulang kembali. Jadi, jika kau menemui salah satu dari mereka saat hal itu terjadi, maka kemungkinan yang ada sangat kecil bahwa kau akan tertembak dari belakang saat kau melarikan diri darinya. Tentu saja mereka akan datang padamu mencoba membunuh dan memakanmu, tetapi jika kau menjaga jarak sehingga mereka tidak bisa menggigitmu, maka aku yakin kau dapat membunuh mereka walaupun dengan pistol lemah itu. Setelah mempertimbangkan berbagai hal dan banyak faktor lainnya, aku memutuskan untuk memberikanmu perintah tadi. Aku telah meringkas semuanya di sana, kecuali, haruskah aku menjelaskan secara lebih rinci kepadamu?”
“…Tidak, itu cukup bagus … Kau bisa menjelaskannya ketika kita berada di atap, kau tahu?”
Melihat Akira yang masih belum puas. Alpha tersenyum seolah sedang berusaha menghibur anak kecil dan berbicara kepadanya.
“Akan ada banyak kejadian di mana aku tidak memiliki kesempatan untuk menjelaskan berbagai hal kepadamu. Jadi, jika aku harus menjelaskan setiap hal kepadamu setiap saat, suatu hari maka kamu akan terbunuh. Sebagai contoh, jika ada peluru yang akan menembus kepalamu dalam 3 detik dan aku harus menjelaskan kepadamu mengapa kau harus turun ke lantai secepat yang kau bisa., maka kau akan terbunuh di tengah penjelasanku. Hal yang sama akan terjadi jika aku memberitahumu untuk turun ke lantai dan kemudian kau bertanya kenapa. Lagipula, aku tidak bisa menyentuhmu, jadi sepertinya aku tidak bisa memaksamu untuk turun. Kau mendapatkan jawabanmu, jika kau tidak dapat mengikuti perintahku tanpa menanyakan alasannya, maka kau hanya akan berakhir dengan kematian. Hal yang sama terjadi pada saat ini, alasan mengapa aku bisa memberimu penjelasan yang panjang di sini adalah karena aku tahu kita sudah cukup aman sekarang, kau tahu?”
“…Aku mengerti.”
Meskipun dia yakin dengan penjelasan Alpha, dia juga merasa bahwa semakin dia bertanya, semakin dia terlihat bodoh. Karena itu, dia hanya menundukkan kepalanya dan mengangguk.
Setelah sampai di lantai pertama, Ekspresinya berubah menjadi suram saat sekilas terlintas akibat serangan yang hampir membuatnya terbunuh. Dia segera melihat sekeliling untuk memastikan bahwa tidak ada monster yang tersisa di sana. Begitu dia yakin, dia menghela nafas lega dan ekspresinya menjadi sedikit tenang. Tapi semua itu langsung terhapus ketika Alpha mulai memberinya perintah lagi dengan tatapan yang serius.
“Akira, dengarkan baik-baik perintahku dan cobalah yang terbaik untuk mengikutinya. Setiap kali kau bergerak di luar perintahku, itu akan meningkatkan kemungkinanmu untuk terbunuh, kau mengerti itu?”
“A-Aku mengerti”
“30 detik dari sekarang, lari secepat mungkin untuk keluar dari gedung lalu belok ke kiri. Tetap berjalan mengikuti jalan tanpa melihat ke belakang tidak peduli apapun. Dan ketika aku memberimu tanda, berbaliklah, letakkan pistol ke depanmu, dan tembakan itu. Kau mengerti?”
“…O-Oke.”
Akira sudah mengerti dengan baik bahwa dia akan kehabisan waktu jika dia bertanya pada Alpha apa alasannya. Dan jadi dia baru saja menjawab pertanyaan Alpha dengan anggukan tegas sambil membuat ekspresi gugup dan takut.
Alpha meluncur ke samping seolah-olah dia membuat jalan untuk Akira, dan kemudian dia mengarahkan jarinya ke pintu keluar sambil menatap Akira.
Akira dengan cemas mengintip ke luar gedung, dia bisa melihat sisa-sisa serangan weapon dog yang berada di sana. Itu adalah pemandangan dari tempat kematian. Dia sudah mempersiapkan diri untuk berlari secepat yang dia bisa. Saat dia membungkuk ke depan untuk pergi dan melarikan diri dari tempat itu dengan sekuat tenaga, kakinya tertanam dengan kuat di tanah. Dia ragu-ragu. Melaksanakan dan pemahaman adalah dua hal yang berbeda. Dia memahaminya dengan baik, tetapi dia tidak memiliki cukup tekad untuk melaksanakannya.
Alpha mulai menghitung mundur.
“5… 4…. 3…”
Untuk sesaat Akira membayangkan apa yang akan terjadi padanya jika waktu sudah habis. Jadi ia memutuskannya sendiri dan berlari.
Dia membakar celah antara setengah gedung tinggi yang hancur dengan semua yang dia miliki. Dia dengan cepat kehabisan nafas, tetapi dia terus berlari. Jantungnya mulai menjerit kesakitan, tetapi dia terus berlari. Telapak kakinya mulai merasakan sakit karena dia menendang jalanan aspal yang keras, tetapi dia terus berlari. Dia mengertakkan giginya dan terus berlari. Dia tidak melihat monster di sekitarnya dan dia juga tidak mendengar suara pertarungan. Jadi dia mulai mempertanyakan mengapa dia terus berlari seperti itu.
Keheningan di sekitar memberitahunya bahwa dia hanya sendirian di reruntuhan itu. Paru-parunya, jantungnya, dan kakinya menjerit kesakitan memintanya untuk istirahat, tetapi dia mengabaikan jeritan itu saat dia terus berlari.
Dia tidak melihat apa pun di depannya dan tidak mendengar apa pun dari belakang. Dia mulai berpikir bahwa dia sekarang sudah aman. Tetapi saat dia mulai tenang, dia merasakan semua rasa sakit dan kelelahan akibat berlari.
[Saat ini aku seharusnya sudah aman , kan?]
Akira berhenti berlari dan beristirahat. Tapi kemudian dia melihat ke belakang untuk memastikan keselamatannya terlepas dari semua peringatan dari Alpha.
Akira ketakutan. Dia melihat monster besar yang tidak terlalu jauh dari tempat dia sedang berdiri. Meskipun itu hanya satu, itu lebih berbahaya daripada sekelompok monster yang menyerangnya.
Sekilas, monster itu tampak seperti weapon dog yang baru saja dia temui sebelumnya dengan meriam besar yang tumbuh di punggungnya. Tapi tidak seperti mereka, monster itu memiliki tubuh yang berbeda dari biasanya seolah-olah mencoba untuk menghancurkan hal yang seharusnya dengan 8 kakinya yang asimetris.
Hal yang sangat aneh adalah kepalanya yang seperti anjing dan bagaimana ia memiliki 2 mata di sisi kanan dan 1 mata di sisi kiri, itu bahkan meragukan apakah dia bisa melihat dengan jelas atau tidak dengan 3 mata berukuran asimetris itu. Tetapi, tidak diragukan lagi bahwa 3 mata itu terkunci kepada Akira.
Monster itu membuka mulutnya dan meraung dengan keras. Pada saat yang sama, meriam di punggungnya terangkat dan menembakan satu round. Tembakan round mendarat tidak terlalu jauh dari Akira saat itu meledak dan membuat puing-puing berterbangan. Namun berkat semua puing-puing yang berserakan, kerusakan yang diakibatkannya di sekitar area telah berkurang. Pada akhirnya, Akira hanya merasakan angin lemah bertiup ke arahnya dan akhirnya selamat dari ledakan tadi.
Sekali lagi monster itu mengangkat meriamnya seolah-olah dia akan menembakam round yang lain. Tetapi tidak ada yang terjadi, dia kehabisan amunisi. Mengeluarkan raungan keras lainnya, matanya sekali lagi, mengunci Akira dan mulai berlari ke arahnya.
Sejak saat itu dia melihat ke belakang, Akira hanya berdiri diam saja di sana terkejut dengan apa yang dilihatnya. Dan bahkan ketika monster itu mulai berlari ke arahnya, dia masih diam membeku di tempatnya.
“Lari!!”
Meskipun dia tidak bisa melihat Alpha sama sekali, dia bisa dengan jelas mendengar suara Alpha yang berteriak padanya. Berkat itu dia segera tersadar kembali dan mulai berlari secepat yang dia bisa. Tapi monster itu telah menutup sebagian besar jarak di antara mereka, dia akan tetap jauh dari monster itu jika dia terus berlari tanpa melihat ke belakang sama sekali. Itu seperti yang telah diperingatkan Alpha, kesempatannya untuk terbunuh meningkat setiap kali dia tidak melakukan seperti yang diperintahkan Alpha.
Seluruh tubuhnya menjerit kesakitan, tetapi Akira mengabaikannya saat dia terus berlari. Dia bisa mendengar suara hentakan kaki di belakangnya semakin keras. Namun berkat bentuk tubuhnya yang cacat, kecepatan larinya relatif lambat, dengan begitu Akira bisa menjaga jarak darinya. Tapi tetap saja, tanah bergemuruh dan mengeluarkan suara keras setiap kali kakinya yang besar menginjak tanah, itu mengingatkan Akira betapa menakutkannya tubuh dan kakinya yang besar.
Setiap kali Akira merasakan getaran dan mendengar suara langkah kaki monster itu bergema dari kejauhan, itu mengurangi kesehatan jiwa Akira. Tidak salah lagi, dia akan berubah menjadi daging cincang jika salah satu dari kaki besarnya itu menginjak dirinya.
Tiba-tiba, Alpha muncul di samping Akira yang terus berlari. Dengan cepat dia berada tepat di sampingnya seolah-olah dia melayang dan meluncur di atas tanah. Akira bisa melihat dengan jelas ekspresi campuran dari keseriusannya dan sedikit kekecewaan.
“Ya ampun, bukankah aku sudah berkali-kali memperingatkanmu untuk tidak melihat ke belakang? Lain kali coba ikuti perintahku persis seperti yang aku katakan. Aku akan memberikanmu tanda saat kau harus berbalik dan menembak balik, jadi cobalah yang terbaik untuk mengikutinya, oke?”
“Menembak kebelakang!? Apakah kau mengatakan kepadaku untuk bertarung menggunakan pistol ini?!”
“Aku sudah mengatakan ini berulang kali kepadamu, aku tidak akan memaksamu untuk mengikuti perintahku”
“Aku akan memperhatikanmu!”
Akira berteriak dan menyia-nyiakan kesempatannya yang berharga untuk menarik napas, tapi Alpha puas dengan jawabannya dan tersenyum senang.
“Tidak perlu membidik apa pun. Arahkan pistolmu ke depan dan tembaklah secepat mungkin, oke?”
“Oke!”
Alpha mulai menghitung mundur dengan jari-jarinya.
“5… 4… 3…”
Akira membulatkan tekadnya dan membuat ekspresi muram. Dia tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain karena dia akan terbunuh jika dia tidak melakukannya.
“… 2… 1… 0!”
Akira berbalik kebelakang secepat mungkin dan segera menembakan senjatanya tanpa membidiknya sama sekali.
Tapi saat dia berbalik, mata besar monster itu sudah berada tepat di depan ujung laras senjatanya. Peluru-peluru yang dia tembak dalam jarak yang dekat, merobek menembus mata monster itu dan melesat lebih dalam ke kepalanya.
Akira terus menarik pelatuk pistolnya seperti orang gila dalam jarak dekat seperti itu. Semua peluru yang keluar dari senjatanya masuk tepat ke kepala monster sehingga melukai monster itu dari dalam.
Meskipun Akira telah menyebabkan banyak cedera pada monster itu, daya tahan yang bertambah menyelamatkannya dari kematian langsung. Tetapi tidak salah lagi bahwa ia sudah berada di pintu kematiannya karena ia terus berteriak kesakitan sampai kematiannya yang tak terhindarkan.
Meskipun monster yang mati itu jatuh lemas di tanah. Akira terus menarik pelatuk pistolnya yang sudah kosong. Hal itu hanya tejadi setelah dia melihat darah keluar dari kepalanya dan memastikan bahwa monster itu benar-benar berhenti bergerak sehingga dia melepaskan jarinya dari pelatuk..
“…A-apa aku melakukannya …?”
Akira dengan kasarnya bernapas, tetapi dia masih bisa mengeluarkan beberapa kata. Karena dia tidak bisa mengkonfirmasi apakah monster itu benar-benar sudah mati atau belum, Akira menjaga pertahanannya sambil menatap monster itu. Saat dia sudah tenang dan mengatur napasnya sebentar, kenyataan bahwa dia telah membunuh monster itu mulai disadari ketika dia melihat monster mati yang basah oleh darahnya sendiri.
“Akira”
Akira berbalik ke arah suara ketika dia akan terjatuh. Kemudian ketika dia ingin mengucapkan terima kasih dan maaf dengan wajahnya yang masih tercengang saat dia melihat Alpha menunjuk ke luar reruntuhan sambil tersenyum. Dia segera bangkit kembali.
“Dalam 10 detik…”
Akira berlari tanpa menunggu kalimatnya berakhir.
Alpha terus menatap Akira saat dia berlari, dia hanya tersenyum dan tiba-tiba menghilang, meninggalkan mayat monster itu sendirian di belakangnya.
Akira yang terus berlari secepat secepat mungkin dari monster yang menyerangnya, tidak menyadarinya, bahwa ada banyak hal yang terjadi di belakangnya.
Sama seperti Akira, para monster itu juga bisa melihat Alpha, jadi mereka mencoba memakan Alpha yang berada di belakang Akira.
Sementara Alpha menggunakan dirinya sebagai umpan untuk memimpin monster-monster di sekitar, kemudian dia akan membiarkan dirinya 'dimakan' setelah dia mengatur posisi mereka.
Monster-monster itu tidak bisa merasakan apa pun walaupun mereka telah menggigitnya. Dengan begitu, mereka akan berhenti sebentar karena mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Kemudian, Alpha akan memberitahu Akira untuk menggunakan kesempatan itu untuk menembak monster-monster ini. Dan itu seperti sebelumnya ketika Akira menembak mata dan membunuh monster itu, Alpha memanipulasi posisi dan kondisi monster dengan menggunakan dirinya sebagai umpan sehingga Akira dengan mudah dapat menghancurkan mereka.
Kelompok monster itu muncul ketika Akira menerima permintaan Alpha, tetapi Akira yang berlari secepat yang dia bisa ke bagian luar reruntuhan sama sekali tidak menyadari hal itu.
Entah bagaimana Akira bisa keluar dari reruntuhan kota Kuzusuhara. Tempat itu masih sedikit berbahaya, tapi jauh lebih aman berada di sini dibandingkan dengan bagian dalam reruntuhan.
Alpha tiba-tiba muncul dan menyambut Akira seolah-olah dia sudah sampai di sana terlebih dahulu. Akira segera berlutut, berusaha mengatur napasnya. Kemudian Alpha dengan lembut berbicara kepadanya.
“Aku tidak keberatan jika kau ingin beristirahat di situ, tetapi apakah itu baik-baik saja jika aku melanjutkan pembicaraan kita? Kami berada di tengah-tengah pembicaraan tentang bagaimana kau akan mendapatkan equipment dan skill yang cukup untuk menjelajahi reruntuhan yang aku ingin untuk kau jelajahi”
“Ah, tentu, lanjutkan”
“Untuk equipment, kau harus membelinya atau mengambilnya dari reruntuhan. Namun equipment Old World yang dapat kau temukan di reruntuhan jauh lebih kuat dibandingkan equipment yang biasa dijual. Jadi aku berpikir kau dapat membeli equipment pertamamu, dan kemudian menggunakannya untuk berburu equpment Old World dari reruntuhan. Dan juga kemampuanmu … Tidak ada cara lain selain melatih dan mengalami pertempuran sungguhan. Tetapi tidak usah khawatir, Dengan bantuanku aku bisa memberikannmu latihan yang terbaik.”
Akira tidak bisa membayangkan latihan seperti apa itu. Tetapi mendengar dari seberapa percaya dirinya Alpha mengatakannya, setidaknya dia tahu bahwa itu pasti semacam pelatihan yang sangat efektif.
“Itu akan sangat membantu. Tapi apakah itu tidak apa-apa bagimu untuk memberikanku banyak bantuan?
“Jangan khawatir, ini sudah termasuk dari uang mukaku, kau tahu. Hal ini juga agar kau dapat menyelesaikan permintaanku. Jadi pada akhirnya, Kurang lebih itu juga demi diriku sendiri. Jika kau berpikir bahwa aku mungkin telah memberikan terlalu banyak uang muka kepadamu. Maka kau harus memberikan yang terbaik dalam melakukan latihan kerasmu”
“O-Oke, aku akan melakukan yang terbaik.”
Akira meringis dan mengangguk, dia bisa merasakan betapa kerasnya pelatihan khusus ini yang dia bicarakan dilihat dari senyumnya.
Alpha tampak puas saat dia membalas dengan anggukannya.
“Tujuan utama kini saat ini adalah agar kau dapat menjadi hunter yang kuat sehingga kau bisa mendapatkan cukup uang untuk mendapatkan equipment berkualitas tinggi. Tapi pertama-tama, kau harus pergi ke kantor hunter, kau harus mendaftarkan diri sebagai hunter resmi dan lulus dari menjadi hunter yang mengklaim dirinya sendiri … Untuk jaga-jaga, izinkan aku bertanya tentang satu hal, apakah kau sudah mendaftarkan diri sebagai hunter resmi??”
Akira mengeluarkan sertifikat hunter dari dadanya. Itu tampak seperti hanya selembar kertas murah dengan bukti tertulis yang mengatakan bahwa dia adalah pekerja peringkat ketiga bersertifikat dari pemerintah daerah wilayah timur. Itu juga memiliki nomor ID hunter dan nama yang tertulis di atasnya.
Melihat sertifikat hunter sangat sedikit yang terlihat seperti sertifikat palsu, Alpha bertanya lebih lanjut.
“…Apakah itu sertifikat hunter … Sesuatu yang terlihat semurah itu? Tolong jangan salah sangka, bukan berarti aku meragukannya, Semua baik-baik saja selama kau dapat menggunakannya sebagai sertifikat hunter … Jadi, serifikat itu baik-baik saja, kan?”
“Kurasa … Seharusnya itu akan baik-baik saja.”
Staf di kantor hunter memberinya selembar kertas ketika Akira mendaftarkan dirinya di sana, tidak salah lagi. Tetapi setelah Alpha menunjukkan bagaimana itu terlihat sangat murah, Akira mulai meragukan dirinya sendiri.
“Aku ingin menanyakan banyak hal kepadamu seperti di mana kau mendaftarkan diri sebagai hunter, apakah tidak apa-apa?”
“Tentu”
Ketika ia menceritakan kisahnya kepada Alpha pada waktu itu, Akira mengingat semua hal buruk yang terjadi padanya dan membuat ekspresi yang beragam.
Akira pergi ke kantor hunter yang berada di distrik bawah kota Kugamayama.
Tempat itu terletak agak jauh dari kota kumuh. Dari luar, itu tampak seperti bar setengah hancur karena setengah dari surat-surat di papan namanya sudah tak bisa dikenali. Jika bukan karena simbol kantor hunter di papan namanya, tidak akan ada yang tahu bangunan itu adalah kantor hunter.
Staf yang melayani Akira adalah seorang pemuda mabuk yang sepertinya tidak ingin melakukan pekerjaan apa pun. Menjadi seorang hunter adalah pekerjaan yang cukup populer. Bahkan di wilayah timur sekalipun dan di sana terdapat banyak hunter hebat di daerah itu, tetapi pria itu sama sekali tidak mengeluarkan perasaan itu. Meskipun ini adalah pekerjaan yang populer, banyak orang tidak suka ditempatkan dekat dengan kota kumuh. Pria itu pasti seseorang yang diturunkan pangkatnya dan dipindahkan ke pos ini yang sesuai dengan motivasi dan kemampuannya.
Akira dengan gugup bertanya kepada pria itu.
“Aku datang untuk menjadi hunter, bolehkah aku mendaftarkan diri di sini?”
Staf itu tampak kesal saat dia mendecakkan lidah dan meletakkan majalah yang sedang dia baca. Dan kemudian dia melanjutkan tugasnya, meskipun, Akira dapat melihat dengan jelas bahwa dia tidak ingin melakukannya.
“…Namamu?”
“Akira”
Meskipun monster yang mati itu jatuh lemas di tanah. Akira terus menarik pelatuk pistolnya yang sudah kosong. Hal itu hanya tejadi setelah dia melihat darah keluar dari kepalanya dan memastikan bahwa monster itu benar-benar berhenti bergerak sehingga dia melepaskan jarinya dari pelatuk..
“…A-apa aku melakukannya …?”
Akira dengan kasarnya bernapas, tetapi dia masih bisa mengeluarkan beberapa kata. Karena dia tidak bisa mengkonfirmasi apakah monster itu benar-benar sudah mati atau belum, Akira menjaga pertahanannya sambil menatap monster itu. Saat dia sudah tenang dan mengatur napasnya sebentar, kenyataan bahwa dia telah membunuh monster itu mulai disadari ketika dia melihat monster mati yang basah oleh darahnya sendiri.
“Akira”
Akira berbalik ke arah suara ketika dia akan terjatuh. Kemudian ketika dia ingin mengucapkan terima kasih dan maaf dengan wajahnya yang masih tercengang saat dia melihat Alpha menunjuk ke luar reruntuhan sambil tersenyum. Dia segera bangkit kembali.
“Dalam 10 detik…”
Akira berlari tanpa menunggu kalimatnya berakhir.
Alpha terus menatap Akira saat dia berlari, dia hanya tersenyum dan tiba-tiba menghilang, meninggalkan mayat monster itu sendirian di belakangnya.
Akira yang terus berlari secepat secepat mungkin dari monster yang menyerangnya, tidak menyadarinya, bahwa ada banyak hal yang terjadi di belakangnya.
Sama seperti Akira, para monster itu juga bisa melihat Alpha, jadi mereka mencoba memakan Alpha yang berada di belakang Akira.
Sementara Alpha menggunakan dirinya sebagai umpan untuk memimpin monster-monster di sekitar, kemudian dia akan membiarkan dirinya 'dimakan' setelah dia mengatur posisi mereka.
Monster-monster itu tidak bisa merasakan apa pun walaupun mereka telah menggigitnya. Dengan begitu, mereka akan berhenti sebentar karena mereka bingung dengan apa yang sedang terjadi.
Kemudian, Alpha akan memberitahu Akira untuk menggunakan kesempatan itu untuk menembak monster-monster ini. Dan itu seperti sebelumnya ketika Akira menembak mata dan membunuh monster itu, Alpha memanipulasi posisi dan kondisi monster dengan menggunakan dirinya sebagai umpan sehingga Akira dengan mudah dapat menghancurkan mereka.
Kelompok monster itu muncul ketika Akira menerima permintaan Alpha, tetapi Akira yang berlari secepat yang dia bisa ke bagian luar reruntuhan sama sekali tidak menyadari hal itu.
Entah bagaimana Akira bisa keluar dari reruntuhan kota Kuzusuhara. Tempat itu masih sedikit berbahaya, tapi jauh lebih aman berada di sini dibandingkan dengan bagian dalam reruntuhan.
Alpha tiba-tiba muncul dan menyambut Akira seolah-olah dia sudah sampai di sana terlebih dahulu. Akira segera berlutut, berusaha mengatur napasnya. Kemudian Alpha dengan lembut berbicara kepadanya.
“Aku tidak keberatan jika kau ingin beristirahat di situ, tetapi apakah itu baik-baik saja jika aku melanjutkan pembicaraan kita? Kami berada di tengah-tengah pembicaraan tentang bagaimana kau akan mendapatkan equipment dan skill yang cukup untuk menjelajahi reruntuhan yang aku ingin untuk kau jelajahi”
“Ah, tentu, lanjutkan”
“Untuk equipment, kau harus membelinya atau mengambilnya dari reruntuhan. Namun equipment Old World yang dapat kau temukan di reruntuhan jauh lebih kuat dibandingkan equipment yang biasa dijual. Jadi aku berpikir kau dapat membeli equipment pertamamu, dan kemudian menggunakannya untuk berburu equpment Old World dari reruntuhan. Dan juga kemampuanmu … Tidak ada cara lain selain melatih dan mengalami pertempuran sungguhan. Tetapi tidak usah khawatir, Dengan bantuanku aku bisa memberikannmu latihan yang terbaik.”
Akira tidak bisa membayangkan latihan seperti apa itu. Tetapi mendengar dari seberapa percaya dirinya Alpha mengatakannya, setidaknya dia tahu bahwa itu pasti semacam pelatihan yang sangat efektif.
“Itu akan sangat membantu. Tapi apakah itu tidak apa-apa bagimu untuk memberikanku banyak bantuan?
“Jangan khawatir, ini sudah termasuk dari uang mukaku, kau tahu. Hal ini juga agar kau dapat menyelesaikan permintaanku. Jadi pada akhirnya, Kurang lebih itu juga demi diriku sendiri. Jika kau berpikir bahwa aku mungkin telah memberikan terlalu banyak uang muka kepadamu. Maka kau harus memberikan yang terbaik dalam melakukan latihan kerasmu”
“O-Oke, aku akan melakukan yang terbaik.”
Akira meringis dan mengangguk, dia bisa merasakan betapa kerasnya pelatihan khusus ini yang dia bicarakan dilihat dari senyumnya.
Alpha tampak puas saat dia membalas dengan anggukannya.
“Tujuan utama kini saat ini adalah agar kau dapat menjadi hunter yang kuat sehingga kau bisa mendapatkan cukup uang untuk mendapatkan equipment berkualitas tinggi. Tapi pertama-tama, kau harus pergi ke kantor hunter, kau harus mendaftarkan diri sebagai hunter resmi dan lulus dari menjadi hunter yang mengklaim dirinya sendiri … Untuk jaga-jaga, izinkan aku bertanya tentang satu hal, apakah kau sudah mendaftarkan diri sebagai hunter resmi??”
Akira mengeluarkan sertifikat hunter dari dadanya. Itu tampak seperti hanya selembar kertas murah dengan bukti tertulis yang mengatakan bahwa dia adalah pekerja peringkat ketiga bersertifikat dari pemerintah daerah wilayah timur. Itu juga memiliki nomor ID hunter dan nama yang tertulis di atasnya.
Melihat sertifikat hunter sangat sedikit yang terlihat seperti sertifikat palsu, Alpha bertanya lebih lanjut.
“…Apakah itu sertifikat hunter … Sesuatu yang terlihat semurah itu? Tolong jangan salah sangka, bukan berarti aku meragukannya, Semua baik-baik saja selama kau dapat menggunakannya sebagai sertifikat hunter … Jadi, serifikat itu baik-baik saja, kan?”
“Kurasa … Seharusnya itu akan baik-baik saja.”
Staf di kantor hunter memberinya selembar kertas ketika Akira mendaftarkan dirinya di sana, tidak salah lagi. Tetapi setelah Alpha menunjukkan bagaimana itu terlihat sangat murah, Akira mulai meragukan dirinya sendiri.
“Aku ingin menanyakan banyak hal kepadamu seperti di mana kau mendaftarkan diri sebagai hunter, apakah tidak apa-apa?”
“Tentu”
Ketika ia menceritakan kisahnya kepada Alpha pada waktu itu, Akira mengingat semua hal buruk yang terjadi padanya dan membuat ekspresi yang beragam.
Akira pergi ke kantor hunter yang berada di distrik bawah kota Kugamayama.
Tempat itu terletak agak jauh dari kota kumuh. Dari luar, itu tampak seperti bar setengah hancur karena setengah dari surat-surat di papan namanya sudah tak bisa dikenali. Jika bukan karena simbol kantor hunter di papan namanya, tidak akan ada yang tahu bangunan itu adalah kantor hunter.
Staf yang melayani Akira adalah seorang pemuda mabuk yang sepertinya tidak ingin melakukan pekerjaan apa pun. Menjadi seorang hunter adalah pekerjaan yang cukup populer. Bahkan di wilayah timur sekalipun dan di sana terdapat banyak hunter hebat di daerah itu, tetapi pria itu sama sekali tidak mengeluarkan perasaan itu. Meskipun ini adalah pekerjaan yang populer, banyak orang tidak suka ditempatkan dekat dengan kota kumuh. Pria itu pasti seseorang yang diturunkan pangkatnya dan dipindahkan ke pos ini yang sesuai dengan motivasi dan kemampuannya.
Akira dengan gugup bertanya kepada pria itu.
“Aku datang untuk menjadi hunter, bolehkah aku mendaftarkan diri di sini?”
Staf itu tampak kesal saat dia mendecakkan lidah dan meletakkan majalah yang sedang dia baca. Dan kemudian dia melanjutkan tugasnya, meskipun, Akira dapat melihat dengan jelas bahwa dia tidak ingin melakukannya.
“…Namamu?”
“Akira”
Staf itu mengoperasikan terminal di depannya, tidak lama kemudian, sebuah printer di dekatnya mencetak selembar sertifikat hunter yang sudah ditandatangani. Dia mengambil kertas dari printer dengan kasar dan menyerahkannya kepada Akira. Setelah selesai dengan pekerjaannya, ia dengan cepat meraih majalahnya dan mulai membaca lagi.
Akira bingung, dia melihat berulang-kali sertifikat hunter yang baru saja dia terima kepada staf itu. Dia berpikir bahwa mendaftar sebagai hunter akan membutuhkan lebih banyak pekerjaan daripada ini, tetapi disini, dia hanya memberitahukan namanya pada staff dan selesai sudah. Dia tidak yakin apakah pendaftarannya benar-benar sudah selesai atau belum, jadi dia tanpa sadar bertanya kepada staf itu.
“A-Apakah hanya itu saja?”
Staf itu tampak kesal ketika dia mengalihkan pandangannya dari majalah kepada Akira.
“Itu saja, sekarang pulanglah”
“Kau hanya perlu namaku? Apakah kau tidak memerlukan informasi lain …?”
Dari lubuk hatinya dia tampak sangat kesal saat dia membuat gerakan untuk mengusir Akira dan mengatakan padanya.
“Karena kau akan mati dalam waktu singkat, apakah kau benar-benar berpikir aku akan meminta informasimu lebih lanjut? Aku tidak peduli dengan informasi yang kau miliki. Sejujurnya, Aku bahkan tidak terlalu peduli dengan namamu. Aku hanya memintanya karena itulah aturannya, Aku bahkan tidak ingin tahu apakah itu nama aslimu atau bukan”
Itu mengingatkan Akira tentang betapa berharganya seseorang seperti dirinya. Setelah menyadari hal itu, dia hanya terdiam dan berjalan pergi dari kantor hunter.
Akira terus menatap sertifikatnya setelah dia selesai menjelaskan bagaimana dia mendapatkannya. Ketika dia mengerti situasi yang dia hadapi, dia bersumpah akan keluar dari kondisinya saat ini.
Alpha tersenyum seolah-olah dia berusaha untuk menghibur Akira.
“Kita akan memulai pelatihanmu dari membaca dan menulis, bagaimanapun juga, mengumpulkan informasi adalah hal yang sangat penting. Tetapi jangan khawatir, kau akan dapat membaca dan menulis dalam waktu singkat dengan support tingkat pertamaku”
“Aku mengerti. Mohon bantuannya… Ngomong-ngomong, bagaimana kau tahu bahwa aku tidak bisa membaca?”
“Nama yang tertulis di dalam sertifikat hunter itu, adalah Ajira”
Pria itu tidak hanya memperlakukannya dengan tidak menyenangkan, dia bahkan membuat kesalahan pada pekerjaannya. Akira mati-matian berusaha menahan diri untuk tidak menghancurkan sertifikat hunternya sendiri.
Lalu Alpha membuat saran sambil tersenyum pahit.
“Saat ini mari kita kembali ke kota Kugamayama, lalu kita dapat melanjutkan pembicaraan kita di sana. Sampai kau belajar bagaimana cara menulis dan membaca, Aku akan melakukan pembacaan di tempatmu”
Akira hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun. Dia menyelipkan sertifikat hunternya kembali dan mulai berjalan menuju Kugamayama. Alpha mengikutinya dan mulai berjalan di sampingnya.
Akira mengajukan pertanyaan sederhana untuk meringankan suasana di sana.
“Ngomong-ngomong, apa nama monster yang baru saja kukalahkan di reruntuhan kota Kuzusuhara?”
“Itu adalah weapon dog”
“…Benarkah itu? itu tidak terlihat mirip sama sekali, jadi monster itu juga dari tipe yang sama dengan mereka? “
“Mungkin saja, yang satu itu melakukan kesalahan saat melakukan pengubakan bentuk. Itu sebabnya kau dapat dengan mudah mengalahkannya”
“Apakah penampilannya itu hanya untuk menarik perhatian?”
“Itu tergantung dari cara kau melihatnya. Monster itu memiliki kelemahan fatal yang memungkinkanmu dapat mengalahkannya dan itu mungkin hanya karena keberuntunganmu saja bahwa kau dapat menggunakan kelemahannya itu. Tetapi jika sekali lagi kau bisa mengalahkan monster semacam itu , maka itu mungkin saja bahwa penampilannya hanya untuk menarik perhatian, tentu saja itu bisa terjadi jika kamu bisa mengalahkannya lagi tanpa bantuanku.
“Tidak, itu tidak mungkin”
“Maka itu berarti bahwa dukunganku benar-benar bagus, jadi kamu lebih baik berterimakasih untuk hal itu, oke?”
“Terima kasih banyak”
“Sama-sama.”
Akira dan Alpha terus berjalan ke arah kota sambil berbicara omong kosong begitu saja.
Dari luar, Akira akan terlihat seperti anak gila yang sedang berbicara sendirian. Tapi di sana tidak ada orang yang memberitahunya.
Itu tentu saja menyelamatkan Alpha yang terus mengamatinya sejak mereka bertemu.
“Tidak, itu tidak mungkin”
“Maka itu berarti bahwa dukunganku benar-benar bagus, jadi kamu lebih baik berterimakasih untuk hal itu, oke?”
“Terima kasih banyak”
“Sama-sama.”
Akira dan Alpha terus berjalan ke arah kota sambil berbicara omong kosong begitu saja.
Dari luar, Akira akan terlihat seperti anak gila yang sedang berbicara sendirian. Tapi di sana tidak ada orang yang memberitahunya.
Itu tentu saja menyelamatkan Alpha yang terus mengamatinya sejak mereka bertemu.

Terimakasih min dan di tunggu update kage ga usui, evil lord dan koko wa ore ni makasete
ReplyDelete