Goblin Kingdom Vol 1 Chapter 66 Bahasa Indonesia
Dark Mode

Volume 1 Chapter 66: Panah yang Kembali
[Status]
- Ras: Goblin
- Level: 15
- Class: Lord; Horde Chief
- Possessed Skills: Ruler of the Horde; Insurgent Will; Overpowering Howl; Swordsmanship B+; Insatiable Desire; King’s Soul; Ruler’s Wisdom I; Eyes of the Blue Snake; Dance at Death’s Border; Red Snake’s Eye; Magic Manipulation; Soul of a Crazed Warrior; Third Impact (The Third Chant); Instinct; Ruler’s Wisdom II;
- Perlindungan Ilahi: Dewi Underworld (Altesia)
- Atribut: Kegelapan; Kematian
- Bawahan Beasts: High Kobold Hasu (Lv1); Gastra (Lv20) Cynthia (Lv20); Orc King Bui (Lv36)
"Apakah kau menyuruh kita untuk memaafkan Gaidga yang membunuh saudara-saudara kita !?" Gilmi bertanya dengan suara sangat lantang sehingga sepertinya datang dari neraka.
"Benar," jawab ku.
Maaf, tapi aku tidak punya niat untuk mengubahnya. Karena aku sudah memutuskannya.
Gilmi memancarkan tekanan saat dia memprotes, menyebabkan goblin Gaidga yang berkumpul seperti diguncangkan.
Tampaknya yang pertama di antara Ganra, The First Archer (Gadieta), benar-benar memiliki sesuatu yang membuatnya istimewa.
"Kenapa? Kenapa kau akan…"
Kegilaan terbuka di mata si goblin di hadapanku yang tidak menginginkan apa-apa selain balas dendam.
Itu tak dapat disangkal, goblin ini pasti luar biasa. Tapi mungkinkah dengan pengetahuannya yang setara dengan kepala suku druid, Gi Za, dia masih tidak bisa melepaskan amarahnya?
"Kekuatan mereka sebagai vanguard akan diperlukan di masa mendatang."
"Tapi!"
"Apa yang aku cari adalah ujung dunia, Gilmi."
Para goblin yang berbaris saling memandang ketika suasana pecah menjadi keributan. Ganra, Paradua, Gaidga, dan bahkan bawahan goblin ku sendiri.
"Apakah kau mengatakan kekuatan kami ini tidak cukup !?"
"Bukan begitu, tapi—"
"... Izinkan aku untuk berbicara."
Ketika Gilmi dan aku berbicara, orang itu sendiri, Rashka, menyela.
"Kau!"
Gilmi membentak, marah, tetapi Rashka hanya diam-diam mendekatinya.
"Aku mencoba menjadi raja."
Dengan nada tenang, suaranya secara alami bergema, dan keributan para goblin di sekitarnya semakin riuh.
"Tapi aku gagal."
Setiap kali Rashka membuka mulutnya, para goblin di sekitarnya akan sedikit lebih tenang ketika mereka secara refleks mencoba mendengarkannya.
"Aku siap kehilangan segalanya. Jadi aku ingin meminta suku ku untuk dibebaskan. "
"Kau mengatakan itu sekarang !?"
"Tembak panahmu itu ke mataku."
Mendengar kata-kata itu, mata semua orang terbuka lebar.
Bahkan Gilmi yang jelas marah sangat terkejut.
“Aku akan menerima panah itu tanpa berkedip sekalipun. Jika aku gagal, bahkan sedikit saja, maka aku akan menyerahkan hidup ku kepada mu. Jika aku tidak berkedip, maka aku ingin kita membiarkan permusuhan kita masing-masing akan disingkirkan. "
Semua mata tertuju pada Gilmi. Itu permintaan yang tidak masuk akal. Tak satu pun dari pilihan yang disajikan adalah apa yang diminta Gilmi. Tapi semua itu dilupakan sebelum kebodohan Rashka, dan semua orang menunggu jawaban Gilmi.
Jika Gilmi menolaknya, maka dia akan dituduh sangat lemah dalam memanah sehingga dia tidak memiliki kepercayaan diri untuk menyerang mata Rashka. Menolak adalah jawaban yang jelas, tetapi kebodohan Rashka memblokir pilihan itu.
Seperti yang diharapkan dari salah satu pemimpin dari empat suku.
Dia tahu kapan harus menunjukkan keberaniannya. Tampaknya Gilmi masih belum bisa menang melawannya dalam pertempuran negosiasi.
"…Itu bagus. Persiapkan dirimu."
Tapi satu langkah saja salah, dan panah Gilmi akan menembus kepala Rashka. Jadi aku memberi isyarat dengan mata ku kepada Dewa Pedang, Gi Go Amatsuki.
Gi Go mengangguk untuk menunjukkan persetujuannya.
Rashka dan Gilmi saling berhadapan dari jarak sekitar 20 meter. Di tangan Gilmi ada busur favoritnya. Di sekelilingnya ada anggota sukunya. Mereka memanggilnya, dan bertanya, "Apakah kau benar-benar akan melakukannya?" Ekspresi Gilmi jauh lebih dekat dengan kebingungan daripada kemarahan.
Dia mengerutkan alisnya setelah ditanya, tetapi dia tidak memberi mereka jawaban. Dia hanya mengusir mereka dengan alasan perlu berkonsentrasi.
Di sisi Rashka ada para Goblin Gaidga yang berlinang air mata. Tidak ada apa-apa selain kebingungan yang tertulis di wajah mereka yang suram, karena kepala suku mereka yang terhormat akan mengorbankan dirinya untuk mereka.
Beberapa menyarankan untuk melarikan diri sekarang. Tapi Rashka tanpa ekspresi menggelengkan kepalanya. Dia sama seperti biasanya, jadi Gaidga tidak berdaya dan menunjukkan kebingungan mereka.
"Sudah waktunya," kataku. "Izinkan aku untuk mengkonfirmasi. Terlepas dari hasilnya - apakah Rashka hidup atau mati - semua permusuhan akan disingkirkan, benarkan? "
"Tentu saja," jawab Rashka tenang dengan tangan terlipatnya.
"Kalau begitu ayo kita mulai."
Saat aku mengatakan itu, kedua goblin terpisah. Bahkan aku tidak berdaya pada saat-saat seperti ini.
"Dari Suku Ganra, anak angkat Ra Gilan -, The First Archer (Gadieta), Ra Gilmi, akan menggunakan panahnya dan menuntut keadilan dari yang tertuduh!"
Menendang bebatuan di kakinya, Gilmi meratakan tanah.
Dia menarik busurnya hingga batasnya, hanya ada satu tujuan: kematian musuhnya. Saat ia dengan hati-hati mengarahkan busurnya ke arah mata kanan Rashka, napasnya stabil, tidak ada kesalahan sedikit pun dalam gerakannya.
Pada saat itu, ketika semua goblin memperhatikan dengan hati-hati satu panah itu, suasana menjadi hening.
◆ ◇◇
Gilmi menggertakkan giginya.
Bagaimana? Dia bertanya. Bagaimana bisa pria itu menjaga ketenangannya? Dia harus tahu betul bahwa aku tidak punya niat seperti itu.
Pikiran dan emosi Gilmi terbakar ketika mereka bertarung satu sama lain di dalam dirinya.
Dia tahu dalam benaknya bahwa menyinggung Pemimpin Timur adalah tindakan bodoh.
Dia tahu itu, namun!
Dia tidak bisa menyetujuinya.
Itu adalah musuh yang paling dia benci, musuh yang bertanggung jawab karena mengambil nyawa Gilan.
Akhirnya, dia akhirnya bisa membalas dendam.
Berapa banyak orang yang tewas dalam serangan Gaidga? Berapa banyak dari orang-orangnya yang tewas dalam upaya mereka untuk memikat Paradua?
Itu bukanlah seseorang yang harus dimaafkannya. Itu adalah musuh yang membunuh saudara-saudaranya!
Saudara-saudaranya yang makan bersama dengannya, yang diburu oleh gaidga! Dan bahkan mereka yang menyelamatkan hidupnya! Dan orang yang bertanggung jawab atas kematian mereka tidak lain adalah musuh tepat di depannya!
Dia hanya perlu melepaskan panah ini, dan panah ini akan melesat di udara, menembus ke mata musuh. Tanpa berkeringat, panah ini akan mengarahkan dirinya sendiri ke kepala musuh, dan pembalasan akan menjadi miliknya. Namun mengapa? Mengapa matanya menjadi kabur?
"Panah adalah sesuatu yang kau tembakkan menggunakan hatimu."
Bayangan Rashka di hatinya berubah suram.
"Jangan membencinya, Gilmi."
Kata-kata yang sekarat itu sekali lagi bergema di benaknya.
Benci, dan hatimu akan melemah. Ketika hati mu melemah, panah mu akan meleset dari sasarannya.
Saat gambar di depannya terdistorsi, sosok Gilan memenuhi pandangannya.
Kehangatan dari tangan besar itu di atas kepalanya ... Pengabdian yang dia miliki ketika dia mengajarinya memanah ... Ketika ingatan memenuhi kepalanya, ingatan itu menyentuh hatinya.
Mengapa? Mengapa Tuan Gilan? Tidak peduli betapa aku membenci Rashka, sosoknya hanya bertambah suram?
Apakah aku salah, Tuan Gilan?
Mengapa!? Mengapa aku harus ingat Tuan Gilan dengan senang hati berbicara tentang Rashka sekarang?
Tuan Gilan!
◆ ◇ ◆
"... Tuan Gilan, aku sudah memutuskan," bisik Gilmi ketika perlahan-lahan menurunkan panahnya.
Semua orang menghela nafas lega. Termasuk aku, Gaidga Goblin, dan bahkan Ganra.
"Rashka, terima ini."
Itu benar-benar instan. Aku tidak mengalihkan pandangan ku dari pemandangan di depan ku, tetapi bagaimanapun juga, aku tidak bisa menjawab. Panah itu sangat cepat. Dan panah itu menembus ke mata kanan Rashka.
"... !!!"
Tapi yang benar-benar mengejutkan adalah Rashka tidak berkedip.
"Apakah aku berkedip?"
Meskipun panah itu menusuk tepat ke bola matanya, sosok Rashka dengan tangan terlipat tidak bergoyang sedikit pun.
"... Luar biasa," bisik Gilmi ketika semua orang saling melirik. “Jika masih ada orang yang ingin melanjutkan permusuhan antara Ganra dan Gaidga setelah ini, maka Aku, Ra Gilmi akan menjadi lawanmu. Majulah sekarang jika ada di antara kalian yang tidak puas! "
Mendengar suara Gilmi, kerumunan di sekitarnya bersorak.
0 Response to "Goblin Kingdom Vol 1 Chapter 66 Bahasa Indonesia"
Post a Comment