Maou Gakuin no Futekigousha Chapter 39 Bahasa Indonesia
Dark Mode

Chapter 39 – Pertarungan Pedang Mitologi
Ini sudah usai. Baik Misa maupun fan union tidak bisa bertarung lagi.
Setelah hiburan usai, aku menoleh ke Ray.
“…… <Jie Gureido> ya? Bisakah aku memotongnya?” Ray bergumam sendiri.
"Jika kau mengalahkanku, aku akan membiarkanmu mencobanya."
Ray membalas senyuman dingin pada provokasiku.
"Apakah kau tidak perlu mengambil pedang yang kau pinjamkan ke Misa?"
“Butuh waktu lama bagiku untuk mengambilnya. Lagi pula, aku punya pedang lain selain Initeio.”
Ray menunjukkan kepadaku pedang yang tergantung di pinggangnya, tetapi sejauh yang bisa kuketahui, pedang itu tak punya sihir. Itu adalah pedang besi sederhana.
“Apakah kau menggunakan pedang yang terlihat buruk itu untuk bermain denganku? Aku bisa menunggu sampai kau mengambil Initeio lho."
"Aku senang tetapi apakah itu benar?"
"Apanya yang benar?"
Ray menghunuskan pedangnya.
"Wajahmu mengatakan kau ingin memulainya sekarang."
Yare yare. Aku menyerah. Orang ini mengerti maksudku.
"Aku baik-baik saja dengan pedang ini."
Tampaknya, dia serius. Dia pria yang sangat menarik.
"Lalu untuk membalas budi, aku juga hanya akan menggunakan pedang."
Aku mengambil ranting pohon yang jatuh di sekitar.
"Bahkan untuk Arnos-kun aku pikir kau akan lebih baik menggunakan pedang biasa"
"Kenapa? Kau pikir kau bisa memotong ranting ini dalam satu serangan?"
Tidak ada penolakan atau penegasan. Ray hanya tersenyum.
"Jika kau memiliki kepercayaan diri maka cobalah."
Aku mengambil langkah menuju Ray tanpa ragu-ragu atau hati-hati.
Tangannya menghilang dan pedang besi itu melintas sebentar.
"... Fuu ... ..!?"
"Naif."
Aku mengayunkan ranting pohon dengan seluruh kekuatanku bertabrakan dengan pedang Ray yang sepenuhnya kewalahan.
Suara nyaring terdengar dan Ray terpental. Dia berguling-guling di tanah.
"Apa yang terjadi? Aku pikir kau akan dengan mudah memotong ranting pohon ini?" Kataku kepada Ray yang jatuh.
Ranting pohon ini diperkuat oleh sihirku. Saat ini, pedang ini jauh lebih kuat daripada besi.
"….Ya itu benar."
Ray berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ini pertama kalinya aku kehilangan poin ke lawan dengan senjata inferior."
"Kau terlihat bahagia."
"Emang iya? Aku benar-benar takut lho.”
"Berhenti berbohong. Mulutmu jadi dower tuh.”
Ray mengeluarkan tawa dan pada saat yang sama, dia melangkah ke samping tetapi tiba-tiba muncul di hadapanku seolah-olah dia menggunakan sihir.
Selain itu kecepatannya itu teknik gerakan memotong hingga batasnya.
"Fuuuuu!!"
Aku hanya bisa melihat kilatan pedangnya seperti jejak cahaya.
“Fumu. Serangan yang sangat bagus.”
Aku menggunakan semua kekuatanku untuk bereaksi terhadap serangan Ray.
Pedang dan ranting pohon saling bertabrakan dan sekali lagi Ray terpental.
"Apakah itu batasmu barusan?" Tanyaku pada Ray yang jatuh dan bangkit dengan mudah.
“Aku sangat kewalahan. Aku pikir aku telah melebihi batasku saat ini."
Tidak ada kemarahan dalam suaranya hanya kesenangan murni.
Sepertinya aku merasa bisa memahami perasaan Ray.
"Apakah aku bisa menyerangmu lagi?"
Ray mengangkat pedangnya. Gerakannya begitu alami seperti pedangnya itu anggota tubuh lainnya.
"Serang aku lagi dan lagi jika kau mau."
Ray menarik napas dan berhenti.
Dia memusatkan kekuatannya di kakinya dan kali ini bukan hanya pedangnya yang berubah menjadi kilatan cahaya tetapi seluruh tubuhnya.
Ray berakselerasi dengan sangat cepat sehingga bahkan mata iblisku nyaris tidak bisa melihatnya.
“Fumu. Kecepatan ini jauh lebih unggul."
Aku meningkatkan kekuatanku dan menyerang pedang Ray. Ketika pedang kami bertabrakan kekuatannya saling bertarung.
Ray secara sepihak mengambil seranganku untuk sementara waktu sekarang dan terpikat.
"Bagus sekali."
Namun kali ini, meskipun aku menggandakan kekuatanku, dia hanya jatuh ke tanah dalam posisi bertahan.
“Luar biasa. Rencanamu barusan berjalan dengan baik.”
Tahap pertama kemudian tahap kedua dan sekarang hadir yang lebih baik dari tahap kedua. Aku harus menempatkan lebih banyak kekuatan di ranting pohon ini.
Ray tampaknya semakin baik dalam menangani seranganku.
Aku tidak menyembunyikan kemampuanku. Karena pedang besi sungguhan yang melawanku. Aku tidak punya banyak ruang untuk bermain-main.
Kata-katanya tentang melebihi batasnya tampaknya tidak bohong.
Dengan kata lain, dalam interval kecil di antara bentrokan kami, Ray tumbuh pada tingkat yang menakutkan.
“…… Rasanya hampir seperti aku mengingat sesuatu……”
"Apa?"
"Cara menggunakan pedang."
Ray datang lagi tapi kali ini tidak ada kecepatan, malah ada haus darah yang aneh di matanya.
"Fuuu ……. !!"
"Lambat."
Aku melepaskan seranganku terhadap serangan Ray dan anehnya. Pedangnya mengambil kekuatanku dan menangkisnya.
Seranganku mungkin cukup kuat untuk menghancurkan kastil tetapi Ray tidak menerimanya secara langsung dan malah menangkis dan mengalihkan kekuatan serangan ini.
Yare yare. Aku sebenarnya terkejut melihat betapa cepat dia beradaptasi.
"Kau benar-benar masalah besar ya?"
Dia tidak bisa mengalihkan semua kekuatan serangan keduaku dan kehilangan keseimbangan.
"Aku akan memberimu hadiah."
"... Haaa ……. !!"
Suara tabrakan berbunyi dan Ray menangkis seranganku lagi.
Kali ini dia tidak kehilangan posturnya sama sekali.
Dia tersenyum dengan senyumnya yang menyegarkan.
"Mari kita lihat bisakah aku memotong rating itu selanjutnya."
"Menarik. Lalu aku akan mematahkan pedangmu."
Suara ledakan yang tidak terdengar seperti serangan pedang.
Aku dan Ray berusaha mematahkan pedang satu sama lain.
Meskipun aku secara bertahap meningkatkan kekuatanku, perkembangan Ray sangat luar biasa sehingga aku harus naik satu tingkat setelah setiap serangan.
Pedangnya sangat tajam. Dia jenius dan cocok dengan pedang.
Aku bisa mengakhiri ini sekarang dengan meletakkan begitu banyak kekuatan sehingga perkembangan Ray tidak bisa mengimbanginya tetapi aku ingin melihat seberapa kuat orang ini.
"Kau harus cepat ke puncak yang aku tinggali. Jangan menyerah dalam perjalanan." (TLN: Intinya harus cepat berkembang. CMIIW)
"Aku akan bermasalah jika kau berharap sebanyak itu."
10 serangan
20 serangan
Perlahan-lahan ilmu pedang kami mendekati zaman mitologi.
Jika pedang kami mengadu, tanah berguncang dan jika serangan dibelokkan, pohon-pohon terhempas.
Kami berdiri di tengah-tengah topan kekuatan di mana segala sesuatu di sekitar kami diredam oleh tekanan pedang kami.
"Kyaaaaaaaaaaa!!"
"Apa ini!? Ada apa dengan bencana alam ini!?”
“Tu ... tunggu Arnos. Apa yang sedang kau lakukan!? Gunung baru saja hilang lho!”
"Sungai-sungai mati."
"Gempa bumi masih terjadi ......"
Jeritan dan kekacauan muncul melalui <Liikus> tapi aku menjawabnya dengan ringan.
"Hanya sedikit permainan pedang yang intens."
"Maafkan aku. Bisakah kau menahannya sedikit lebih lama?” (Ray)
Sekali lagi Ray dan aku mengadu pedang.
Tumbuhan dan bahkan akarnya kini berterbangan. Seluruh wilayah berubah menjadi lahan kosong.
Tapi ini bukan masalah. Tanah hutan pohon iblis penuh dengan sihir. Tidak peduli berapa banyak kau menjadi liar, tanahnya akan kembali seperti semula dalam satu malam. Pada dasarnya, kita dapat menggunakan kekuatan penuh sebanyak yang kita inginkan.
"Kau terlihat bahagia, Arnos-kun."
"Mm. Sudah lama sejak aku menggunakan kekuatan sebanyak ini. Meskipun aku mengusir rasa frustasiku yang masih menumpuk.”
Sekali lagi pedang kami mengadu dan topan yang kami buat menghempaskan semua awan.
"Raut wajahmu sama dengan wajahku."
"Karena ini adalah pertama kalinya aku bisa bertarung dengan seseorang selama ini."
Jika kau memiliki tipe kemampuan alami bahkan dengan lawan yang unggul atau melawan jumlah yang unggul, ia akan mengejar ketinggalan dalam waktu singkat dan menyusulnya.
"Kau sepertinya menyukai pedang."
"Hanya dalam hal itu, itu satu-satunya penebusanku."
Karena kemampuannya, Ray tidak akan diberkati dengan saingan yang layak sampai sekarang. Semua orang tidak akan berharga baginya. Tidak ada yang lebih membosankan dari itu.
"Aku memahamj perasaanmu dengan baik."
"Aku pun merasa seperti aku memahami perasaan Arnos-kun."
Fumu. Perasaan apa ini?
Meskipun pedang kami diayunkan dengan kekuatan penuh, bagian dalam dadaku terasa panas. (TLN: Gay detected, wkwk enggak deh becanda)
Ini pertama kalinya.
Apakah itu karena kau tidak harus bersaing di hidupmu saat ini?
"Apakah kita akan segera mengakhiri ini?"
Ray benar-benar menangkis rantingku dengan keterampilan yang sempurna dan mengirim ujung pedangnya ke tenggorokanku.
"Fuuu!!"
Dia melepaskan serangan yang belum pernah dia gunakan sampai sekarang.
Segera setelah aku mencoba menangkisnya, serangannya berubah dan dia menusuk ranting pohonku.
Jika aku mendorong atau menariknya mungkin ini akan hancur.
"……..Disini…….!!"
Serangannya berubah lagi dan Ray memotong ranting pohon.
Aku menentukan timingnya dan mendorong ranting pohon ke atas saat dia mulai memotong.
Ujung pedangnya hancur dan terbang sementara pada saat yang sama setengah dari rantingku jatuh ke tanah.
Aku mendorong ranting pohon yang pendek di kepala Ray.
“Fumu. Seperti yang kau nyatakan. Aku benar-benar tidak berpikir kau bisa memotong senjataku.”
“…… Namun tetap saja ini kekalahanku. Bukan saja pedangku patah oleh ranting, pada akhirnya aku juga dihunuskan pedang.”
Ray menjatuhkan pedangnya ke tanah dan mengangkat tangannya.
"Bisakah aku mengatakan sesuatu yang aneh?"
"Mari kita dengarkan."
“Aku merasakannya saat kita bertukar serangan. Rasanya ini bukan pertama kalinya kita bertemu.”
"Itu mungkin. Kita mungkin telah bertemu dua ribu tahun yang lalu. Aku juga kenal seorang pria sepertimu.”
Ray menatapku dengan minat di matanya.
"Ray. Jika aku bilang aku adalah Raja Iblis Tyranny, maukah kau mempercayainya?”
"Aku tidak tahu, tetapi dengan kekuatanmu, itu membuatku bertanya-tanya."
Apakah dia seseorang yang bereinkarnasi? Aku tidak bisa mengatakan dengan pasti, tetapi aku merasa seperti aku mengenal Ray dengan baik.
"Ngomong-ngomong. Karena aku kalah, tidak bisakah aku bergabung dengan tim Arnos-kun?”
Aku bereinkarnasi dengan sengaja. Tidak perlu bagiku untuk tetap menjadi tawanan masa lalu.
"Hey."
"Nn?"
“Pria yang bisa bertukar pedang dan seimbang denganku tidak perlu menambahkan -Kun ke akhir namaku. Itu memalukan.”
Ketika Ray pertama kali melakukannya kepadaku, aku memberikan tangan kanannya kepadanya dan meminta jabat tangan.
"Kalau begitu, Arnos."
Ray meraih tanganku dan mengguncangnya dengan kuat.
"Aku akan menang lain kali."
"Aku juga, dan lain kali aku tidak akan membiarkanmu menghancurkan pedangku."
Dia tersenyum dengan senyumnya yang menyegarkan dan aku tertawa.
Aku melihat ke belakang senyum yang menyegarkan itu dan melihat zona kehancuran yang dulunya merupakan lokasi hutan pohon iblis.
njer gegeh geludnya
ReplyDeletelanjut lanjut
ReplyDeleteSekalipun sudah reinkarnasi 2000 th masa sama bawahannya yg setia sendiri gak kenal sih, emang kalo reinkarnasi mukanya berubah? Kok di komik muka arnos sma aja kaya dulu, lalu apa yg buat mereka gak saling kenal ya?
ReplyDeleteApa emang si ray ini bukan bawahan arnos ya?
Menurutku arnos itu khusus, kan dia raja iblis jadi wajahnya bisa dirubah. Sedangkan bawahanya reinkarnasi dengan kemungkinan efek samping (hilang ingatan)
DeleteMantap min, garap terooos. Jangan kasih kendor :v
ReplyDeleteKalo perlu pake viagra
lagi rame yah di gas yah:v
ReplyDeleteThanks min
ReplyDeleteGw bayangin kalo mereka pake pedang sihir, kerusakanya bakal gimana?.
ReplyDeleteTerlalu op gimna jadinya klu ngelawan ahlawan shin bisa jadi 1 pulau bisa hancur
ReplyDeleteGas slur~~
ReplyDeleteKpn manga smpe sini ?
ReplyDeleteThanks min, lanjut terus
ReplyDeleteMantap min lanjutin lagiiiiii
ReplyDelete